Perjalanan yang belum selesai (1)
http://www.allvoices.com/contributed-news/4695131-perjalanan-yang-belum-selesai
( Kisah Nyata seorang wartawan Indonesia)
(Episode pertama, Kamis, 26 Nopember 2009)
By: Muhammad Jusuf *
Berjualan Es keliling
Sekitar bulan Juni, tahun 1968 lalu, aku sudah duduk di kelas 3 Sekolah Dasar Negeri 3, di Jalan Lembah, Kelandasan, Balikpapan, suatu kota teramai di Kalimantan ketika itu, bahkan sampai ini. Di sekolah ini, sebenarnya aku mulai masuk pertama kali duduk di kelas satu empat tahun sebelumnya, tahun 1964. Namun, karena ketika di kelas satu, aku duduk di paling belakang, sehingga aku tidak terlalu jelas, apa yang tengah diterangkan di depan kelas. Apalagi, ruang kelas ketika itu disesaki sekitar 40 siswa, apalagi, ruang kelas pada waktu itu berukuran cukup besar. Akhirnya, aku di kelas satu sempat tidak naik kelas, sehingga ayahku ‘’Agusno’’, yang ketika itu berpangkat ‘’kopral’’ marah-marah sama gurunya, dan minta saya dipindahkan ke tempat duduk paling depan. Ternyata berhasil, aku naik kelas, hingga kelas tiga, dua tahun berikutnya.
Salah satu teman istewaku, di kelas itu adalah Ahmad, namun banyak teman-teman di kelas memanggilnya ‘’Ahmad Picak’’, karena mata sebelah kiri cacat, sehingga dia hanya bias melihat menggunakan mata kanan. Sejak kelas satu, kata dia, dia sudah mencari penghasilan sendiri. Dengan berjualan es plastic, yang kita panggil pada masa itu dengan ‘’es gaya baru’’, es manis yang dibungkus plastic kecil, yang dibawa ‘’Amat Picak’’, demikian dia sering dipanggil kadang dua teremos penuh yang dipikulnya, usai dia pulang sekolah. Biasanya sekitar pukul 01 siang sampai pukul 05.00 sore. Namun, ketika sekolah masuk siang, dia berjualan pada pagi hari dari pukul 06.00 pagi hingga pukul 10.00 pagi.
Suatu hari, ketika kami sama-sama duduk satu kelas di kelas tiga, kebetulan kami masuk siang, aku bertanya pada dia. ‘’Mat, boleh aku ikut kamu jualan, agar aku bias punya uang sendiri untuk jajan,’’ kataku padanya. ‘’Besok pagi ikut aku ke gunung dup, Suf’’ kata Amat kepadaku. Gunung dup, adalah suatu kawasan di atas perbukitan, dekat Pelabuhan Laut kota Balikpapan. Di kawasan ini dikenal sebagai perumahan elite, umumnya dihuni para pegawai, utamanya staff atau tingkat manager perusahaan minyak Pertamina, atau perusahaan minyak asing lainnya. Ajakan Amat ke gunung ‘’Dup’’ memang beralasaan, karena pada tahun-tahun itu, hanya segelintir orang ‘’kaya’’ saja yang memiliki ‘’kulkas’’. Kulkas ketika itu masih berupa barang mewah.
Esok, paginya, hari Kamis, Minggu pertama pada bulan Juni 1968 itu sekitar pukul 06.00 sudah ada di rumah salah seorang staf Pertamina yang memiliki ‘’Kulkas’’ seperti yang dituturkan Amat. Seperti biasa, Amat sudah mengisi dua termosnya. Satu termos berisi 60 butir es plastic. Begitu pula saya. Kami pun lalu memikul kedua termos itu menggunakan sebuah tongkat kayu.
Amat lalu berjualan menyusuri pasar Prapatan, Sentosa II lalu ke kawasan Kelandasan, dan siangnya sekitar pukul 11.00 sudah berjualan mendekati sekolah di Jalan Lembah. Jadi, pukul 12.00 siang, dia sudah bersiap masuk sekolah, setelah terlebih ganti baju. Sedangkan saya, ketika itu berjualan kea rah pelabuhan laut, tidak jauh di kawasan Gunung Dup itu.
‘’Iyoo, es gaya baru…Iyooo, es gaya baru,’’ teriak aku berkali-kali, menyusuri jalan hingga satu jam kemudian sampai di kawasan pelabuhan. Di sepanjang jalan, tentu ada satu dua orang yang memanggilku untuk membeli es. Ada yang beli dua, satu bahkan ada yang memborong lima sekaligus.
‘’Dik, kemari,’’ teriak seseorang dari balik Gudang di pelabuhan itu. Saya pun lalu mendekati pemuda yang tengah memanggil itu. Rupanya, para pemuda ini adalah para pekerja ‘’lepas’’ di pelabuhan itu, utamanya ‘’kuli’’ angkut barang. Rupanya, pemuda ini lalu memanggil beberapa temannya. Eh, Togar, cepat kemari, minum es aku yang traktir,’’ teriak pemuda ini kepada puluhan teman-temannya di sekitar kawasan itu.
Dalam sekejab, tidak sampai lima menis, puluhan pemuda itu ‘’melariskan’’ kedua isi termosku. Namun, beberapa menit kemudian, mereka satu per satu ‘’bergegas pergi’’ lalu menghilang di kejauhan. Tinggal aku sendiri, tentu di usiaku sekitar 10 tahun, masih terlalu kecil dan tentu kalah cepat dalam berlari mengejar para pemuda berusia 20’an itu.
Menyadari mereka semua bergegas lari, meninggalkan aku sendiri, aku pun mulai menyadari bahwa mereka rupanya telah ‘’kabur’’ tanpa membayar sesen pun seluruh dua isi termos. Mungkin isi termos itu tinggal sekitar 80 es plastic, karena sekitar 40 telah terjual ketika dalam perjalanan dari rumah ‘’Touke’’ menuju pelabuhan.
*Menjadi wartawan lebih 25 tahun di berbagai media, kini wartawan freelance adan dosen komunikasi di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Hidayatullah.
Unfinished Journey
(A short story of an autobiography of Indonesian Journalist)
http://www.allvoices.com/contributed-news/5018147-unfinished-journey-episode-1-a-short-story-of-an-autobiography-of-indonesian-journalist
By: Muhammad Jusuf *
(Episode 1, January 13, 2010)
Selling Sweet Plastic Ice
About June, 1968, I attended a State Elementary School Number 3 in Lembah Street, Kelandasan City of Balikpapan market areas. Balikpapan in 1960’s has already the busiest and a business city in Borneo, because they have an oil refinery which can refined about 400,000 barrel of crude of oil a day, the largest Indonesian oil refinery on that times.
When I attended at level 3 at Elementary School my age is 10 years old. Most of my classmate was 9 years old, because when I enrolled the first level of Elementary School event my age still 7 years old, but I stayed at level one for two years, because I did not pass the class in the first year. One of the reasons, my desk was in the backside last. So, with the students of more than 40, I could not hear what the teacher saying in the front of the class. That is why my father, Agusno, an Indonesian sergeant army told my principal that I should change the desk into the first line of the desk, close to the teacher in the front of the class, when I was continuing my class in year a head, in 1966. The changing of my desk was successful, because I pass the class till I am in the level 3 now, in 1968.
In level 3, one of my best friends names Ahmad, but most of my classmate called him “Ahmad Picak’’ (Ahmad blind), because one of his eyed was not in used, he only could see in one eye. Ahmad told me that he could not see with his two eyes since his birth. ‘’Maybe my mother get something diseases, or my mom malnutrition’s, so she could not released me to the world in healthy physically,’’ Ahmad told me some times.
Ahmad indeed is one of poor families’ students in my class. That is why before attending the class, he should carry on his shoulders a sweet plastic ice to sell in many areas in Balikpapan, from Klandasan market, Semayang harbor as well as around the school areas in Lembah Street.
Some times Ahmad also sold a fried banana and other Indonesian traditional cake and pie in order to empower his purchasing pocket to buy a books and other their families needs and also to pay his tuition school fee.
One day in February 1, 1968, I ask Ahmad: ‘’Ahmad, can I joined with you to sell sweet plastic ice (es plastic) and fried banana (pisang goreng or local call it ‘’Sanggar Pisang’’) like you did,’’. ‘’Sure, you would. We met you tomorrow in Gunung Dup, we will take sweet plastic ice there, including a fried banana, Ok?’’ Ahmad said to me. ‘’Ok, I would met there,’’ Yusuf told Ahmad.
Gunung Dup areas, closed to Balikpapan Harbour are elite areas. Most peoples whose lived there is a rich peoples, mostly an Indonesian Government Own Oil Company of PERTAMINA staff, and other Foreign Oil and Gas company. Because only a certain peoples can effort to buy a refrigerator or commercial ice box in the 60’s.
In early morning, about 06.00, on Thursday, the first week of June, 1968 I have already in the house of one of Pertamina staff in Gunung Dup areas. I was a little surprised that Ahmad went this house earlier than me. He already arrived at 05.45, 15 minutes earlier than me. Ahmad had already fulfilled his entire two ice thermos with 60 ice sweet plastic. Each thermos had a capacity of 30 ice sweet plastic. Usually the ice sweet plastic has ingredients only water, sugar, and “cake colors’’. Some times thy mix it with fruit juice, like soybean juice, mango juice, durian juice and other fruit taste. I was also fulfilled all two ice thermos and I carried with 1, 5 meter stick into my shoulder.
Ahmad this morning had to sell his ice sweet plastic to Prapatan market route, Sentosa II, Klandasan traditional areas and closed to Jalan Lembah areas. I had another route. Around Semayang harbor, Kebun Sayur market and Kampung Baru Tengah areas.
‘’Sweet Ice…..mix with sweet fruit”! , I shout lauder in the street, to tell the peoples that I pass by that I offer to sell a sweet ice. Some of the peoples bought my ice sweet plastic in the route, before I arrived in Semayang harbor areas.
‘’Brother, come in here,’’ shout some one who just went come out from one warehouse in Semayang harbor, Balikpapan. Then, I went more closely to the young guy who just called me who want to bought my ice sweet plastic. ‘’Hey, Togar, please came here, tell all your friends there, I would treated you all to buy this ice sweet plastic,’’ said Ucok to his friends whose jobs as a part time bag carried person in the Harbor. ‘’Ok, we would came,’’ said Togar and around five other friends.
When I arrived in Semayang Harbor, My ice sweet plastic left only around 40 items. Around 20 items were already sold on the way from my boss houses to Semayang Harbor. They only took not more than three minutes to dry out my thermos ice. I was very happy so, but when Ucok had give a sign to his friends. ‘’Run…!’’ said Ucok to his all friends. It’s was took only one minutes Ucok and all his friends was gone to somewhere in the Harbor that I could not follow. How a kid ten years old like me can catch them or could follow their speed running.
I just cried loudly and no one worker in the harbor took pity on me. I do not blame them, may be they just worked to hard tried to feed their families by offering a part time job to carry a ships passenger bags or carried other things. That was they were not enough time, event a few minutes to watch other peoples business like me.
Perjalanan yang belum selesai (2)
http://www.allvoices.com/contributed-news/4705503-perjalanan-yang-belum-selesai-2
Episode kedua, Sabtu, 28 November 2009
Oleh: Muhammad Jusuf
Aku, kata kedua orang tuanya, terlahir prematur hari Jumat, 10 April 1959 lalu di Rumah Sakit Angkatan Darat, Balikpapan. Karena, premature, usia kehamilan ibuku baru tujuh bulan, sudah lahir, akibatnya, aku harus mendekam di ‘’Inkubator’’ selama enam bulan dan baru bias jalan setelah berumur dua tahun, padahal Ibuku, sudah melahirkan anak ketiga, Rachmat Edy, yang kini juga berprofesi sebagai wartawan dan account executive salah satu media di Jakarta.
Aku sendiri anak kedua dari sepuluh bersaudara. Ayahku, beralasaan, dulu di Angkatan Darat belum ada program Keluarga Berencana. Alasan lain, dia merupakan anak tunggal dari Kakekku Diran Wirotiyoso, asal Klaten, Surakarta, Jawa Tengah, dan nenekku Inah, asal kota Grogot, ibukota Kabupaten Paser, di Kalimantan Timur. Jadi, Kekekku asal dan suku Jawa, nenek-ku suku dayak ‘’Paser’’.
Jadi, ayahku, Agusno, yang kini sudah meninggal akhir tahun 2004 lalu, dalam usia 73 tahun merupakan perpaduan Jawa dan ‘’Dayak’’. Sedangkan Ibuku, Temah, kini berusia lebih 70 tahun, Ibunya Niman berasal dari desa Somber, kini masuk dalam wilayah Balikpapan, suku ‘’Dayak Paser’’, suaminya ‘’Baco benu’’, kakekku, berasal dari Pulau Selayar, Sulawesi Selatan, jadi aku sudah menjadi Bhenika Tunggal Ika, ada Jawa, Paser dan Bugis.
Masa kecilku, diawali tinggal di Asrama Tentara di sekitar Sentosa Dua, tidak jauh dari Pasar Prapatan, Balikpapan. Disini, aku tinggal sejak lahir sampai sekitar tahun 1969, karena kemudian tahun 1970 ayahku membangun sebuah rumah di pinggir pantai di sekitar Kampung Baru Tengah, Balikpapan. Mungkin, alas an Ayahku pindah, karena tinggal di Asrama terasa terlalu sempit. Padahal ketika itu Ayahku sudah punya anak delapan. Dua diantaranya kemudian terlahir di Jakarta, yaitu si bungsu Wahyu Eko Buwono, dan dua dari terbawah Yuni Suryaningsih. Sedangkan Kakakku tertua, bernama Sri Marginingsih. Hampir semua nama kakak dan adik-adikku berbau nama Jawa, hanya aku sendiri berbau ‘’Arab’’ dan Islam, Muhammad Jusuf, yang di dalam akter tertutulis Mochamad Joesoef.
Masa kecilku di Balikpapan, nampaknya terasa indah. Apalagi, kalau aku bandingkan dengan hidup di Jakarta dalam waktu lebih dari 35 tahun terakhir. Ketika musim libur tiba, terutama pada bulan Ramadhan, karena ketika itu pada tahun 1960’an, pada setiap Ramadhan, sekolah libur penuh, sehingga aku, kakakku dan satu adikku, selalu berlibur ke pedalaman Kalimantan, dulu Nenekku tinggal di kawasan Somber, Selokbugis, dan Kenangan. Dulu kawasan itu merupakan hutan lebat. Untuk menuju ke kawasan ini selalu menggunakan ‘’sampan’’ atau perahu kecil yang dikayuh dengan ‘’dayung’’. Belum ada mesin ‘’ketinting’’ seperti yang kini banyak digunakan. Tidak heran, dari kota Balikpapan menuju ke kawasan kampong kecil itu memerlukan waktu berjam-jam, kadang, kalau aliran sungainya deras, bias lebih enam jam bahkan 12 jam, baru sampai ke tempat di mana nenekku dan ‘’dato’’ku (kakek) berladang.
Dulu, di sekitar sungai Wain dan di Somber, ketika aku melewati alur sungai, ratusan bahkan ribuan ular sawah selalu bergelantungan di pohon dan ranting yang kami lewati. Ketika kami lewat, kadang ada satu dua ular yang terjatuh dan menyeberang sungai. Herannya, aku ketika itu tidak memiliki rasa takut. Mungkin karena sudah terbiasa. ‘’Ngak apa-apa, asal mereka tidak diganggu. Kita aman,’’ kata Nenekku berulang-ulang, mengingatkan ku, ketika kami menunduk di dalam perahu, menghindari benturan kepalaku denganular-ular sawah yang cukup besar itu bergelantungan di dahan pohon.
Selain berladang, menanam padi, dan sayuran, seperti timun dan tomat, serta jagung, Datoku dan nenekku juga kerap berburu ‘’rusa’’, kerana kami adalah ‘’Dayak Paser’’ yang Moslem, tentu saja kita tidak berburu babi, tapi rusa atau yang dalam bahasa Kalimantan ‘’Payau’’.
Ketika kami pindah ke kawasan Kampung Baru Tengah, rumah kami yang terbuat dari kayu dan tingkat dua, di bawah kolongnya langsung ada air laut. ‘’WC’’ kami pun langsung ‘’tumpah ke laut. Tidak heran, sebelum saya masuk sekolah, paginya menyempatkan diri mencari ikan dan kepiting di belakang rumah kami, sehingga praktis ibu kami jarang berbelanja ikan laut di pasar, karena saya dan adik dengan telanjang bulat biasa berenang atau menggunakan sampan kecil mencari ikan. Kalau sekolah masuk siang, kami mencarinya pada pagi hari, begitu pula sebaliknya, bila sekolah masuk pagi, sore harinya kami mencari ikan dan rajungan (kepiting). Rata-rata saya mendapatkannya satu ‘’baskom’’ penuh.
Suasana di akhir dan awal tahun 1970’an itu, tentu saja tidak akan anda temui lagi, karena kebakaran hutan yang berlangsung lama di Kalimantan Timur beberapa tahun lalu, serta pencemaran pantai yang parah, Anda tidak menemui lagi hewan alam ‘’ular sanca’’ yang banyak bertebaran di sepanjang sungai Wain dan Somber itu, bahkan Anda tentu sulit menemui ikan dan rajungan kembali di sepanjang pantai di kawasan Kampung Baru, Balikpapan itu.
Ketika usianya sekitar lima tahun, aku dimasukkan sekolah Taman Kanak-Kanak milik Persit Kartika Chandra Kirana, di sebelah Lapangan Sudirman, Sentosa Dua. Aku masih ingat, di sekitar tahun 1964’an itu, sekolah ini pernah ‘’dipengaruhi anggota PKI atau Gerwani’’. ‘’Anak-anak, apa yang anda lihat di depan kelas ini,’’ seru salah satu guru TK yang belakangan mungkin anggota PKI itu. ‘’Permen cokelat,’’ teriak murid-murid TK kelas O, ketika itu.
‘’Anda tahu, siapa yang member cokelat ini kepada anak-anak,’’ kata Guru perempuan itu. ‘’Ibu guru ……!,’’ Jawab Murid-murid lagi. ‘’Apa Tuhan bisa member cokelat ini sekarang ….,’’ Seru Ibu guru itu lagi. ‘’Tidak ……..,’’ jawab Murid serentak.
Nampaknya, sekolah ini, walaupun milik Persit, Persatuan Isteri Tentara, tapi nampaknya sudah ‘’dipengaruhi’’ unsur ajaran ideology komunis. Apalagi, di depan sekolah TK ini, adalah kawasan rumah yang kala itu tergolong ‘’mewah’’ banyak dihuni para marinir dan angkatan laut tentara ‘’Beruang merah’’ Uni Soviet.
Kekuatiran ayahku, akan pengaruh berbau ‘’komunis’’ itu, menyebabkan aku tidak menunggu naik ke las O besar lagi, tapi dari kelas O kecil langsung masuk ke Kelas 1 di Sekolah Dasar Negeri 3 di Jalan Lembah, dekat Kantor Pusat Kantor Pos dan Giro Balikpapan, Kelandasaan itu.
Ada satu peristiwa yang sangat berkesan di saat kami kecil, masih duduk di bangku kelas 1 Sekolah Dasar Negeri 3 itu, kami dengan berseragam pramuka berjajar di pinggir jalan di sekitar Jalan Antasari sampai ke kawasan Pelabuhan ‘’Semayang’’ Balikpapan berbaris ‘’menyambut kedatangan kunjungan Presiden pertama kita, Presiden Soekarno. Itu terjadi sekitar tahun 1964.
· Wartawan Freelance dan Dosen Komunikasi (Jurnalistik) Sekolah Tinggi dan Ekonomi (STIE) Hidayatullah
Unfinished Journey (2)
(Episode 2, January 20, 2010)
http://www.allvoices.com/contributed-news/5073862-unfinished-journey-episode-2
By: Muhammad Jusuf*
My mom and my dad ever told me one time, that I was born in premature. My mother still seven months pregnant and I were born on Friday, April 10, 1959 in Military Hospitals in Balikpapan city, East Borneo.
My mom said that I should stayed in Hospital incubator around six months, and when my younger brother Rachmat Edy was born in the same Hospitals in two yeas later, I still could not walk yet. ‘’You can walk normally when you was three years old, other kids, event your Sister and Brothers do not needs more than two years to stand and walk alone.
Later, My Parents have ten kids, five man and five women. I am a second kid. My Father , Agusno who was passed a way in June, 2004 at 73 years old, was told me that in the past as an Sergeant army officer, his offices do not have a family planning program. So, that was why My Father every months got around 100 kg of rice from his offices to feed their family.
My Father is only single kids of my Grant Parents names Diran Wirotiyoso, a Javanese from Klaten, Central Java who was killed by Japanese marine group when the Japan and Netherland marine broke the war in Australian sea border. My Grant Parents is a Netherlands marine sergeant who joint with Netherland military corp. in 1930’s. He was joined in Netherlands Sub Marine Corps who was involved in Sea Battle in Australian sea border, close to Papua islands in 1940’s.
My Grant Mother, Inah, is a ‘’Dayak Paser’’ ethnic from Tanah Grogot, Paser Regencies, East Kalimantan. My Mother, Temah, 80’s is also a “Dayak Paser’’. My Grant Mother from my mom side is also Dayak Paser, but his husband was from Selayar Island, South Sulawesi. My Grand Father names from my mom side are Baco Benu, Bugis Ethnic names. So, Ethnically, I have three mixes in ethnicity, Dayak, Bugis and Javanese.
From my birth to around 1968, I stayed in Sentosa Dua, closed to the Prapatan Market areas. Sentosa II is a Military base dormitory and Military Real Estate. Around 1969, my Father build their own houses, two storey, about 300 m2, bigger than the one when we stayed in Military Dormitory, only size 60m2.
My Father build a big houses in ‘’Kampung Baru Tengah’’ (New Central Village), South of Balikpapan city, around 25 km from Sentosa II areas. The newly locations is more comfortable, because we have a house which upper the neat of beach. ‘’So, when my school was in the afternoon, around 12.00, before I attended the elementary school, I fish back to my houses. I usually catch the crab and other kind of fish, so my mother can save their money to buy fish or crab. I used small boat, or small kayak to fish the crab. When my school times were in the morning, I took to fish at around 16.00 local times’’.
My father decided to build their own houses, because my parents has already have 8 kids, four man and four women, because two other brothers and sisters, Yuni Suryaningsih and Wahyu Eko Buwono were born in Jakarta later.
So, when we stayed in Balikpapan, I have my Older sister, Sri Marginingsih, my younger brother Rachmat Edy, Agus Santoso, Bambang Widodo, and my younger sister Sri Mulyani, who right now more than 20 years living in San Diego, California, the United States. Sri Mulyani got married with American zitizens Umar Abdul Madjid. Umar is a new name since he converted to Islam 30 years ago when he attended at Law School in San Diego. My other younger sister was Titin Fatimah, and Yuni Suryaningsih.
Rachmat Edy and Agus Santoso were like me, working as a Journalist. Sri Mulyani, Erni Rahayu, and Yuni Suryaningsing are a Teacher in profession.
I remembered that in Ramadhan fasting months times, in 1960’s, My grand mother always took me to her houses in the Borneo Jungle, we call it Wain river areas, 50 km from Balikpapan city, East Kalimantan. In the past, the school holidays always match with Ramadhan times, either in December, November, or October or other Gregorian months. Usually, Ramadhan holidays were 30 days.
From our Houses in Balikpapan we use small boat, like Kayak. We never use a machine boat, we just swing the boat with small wood stick. That was why we need more than 12 hour before we arrived in Wain villages. ‘’Some times, in the rainy seasons, we needs more time, up to 24 hours before we arrived to the locations, because our Grand Father should manage their small kayak against a water stream flow to passed the river straits’’.
In the past, the Wain, and Somber villages were still a virgin forest areas, so when we passed the Wain River or Somber River, we saw a lot of Python snake circles and hanged in the tree. We also saw a lot of Orangutan apes dance in the tree. The view was so beautiful there when we saw a lot of small and big snake and Orangutan apes.
I am not afraid when we passed the animals like snake and apes. ‘’They did not strike you or to bit you, if you also not bother them,’’ said my Grant Mother, reminds me, when our kayaks passed a group of Python or Orangutan.
Now, we can not found the view and beautiful scene like we saw in the past. The forestation by illegal logging, wood cleansing by Plywood Company and other Crude Oil Palm company which change the land areas were one of the reason why we could not find Python and Orangutan anymore in the Wain and Somber areas.
We also could not catch the fish, when we fishing in the Wain and Somber river areas. The river was polluted and hard to find a lot of natural fish. ‘’In the past, my grand mother and my grand father was fished the fish in the river, so they eat fish freely, never bought in the traditional market, like we do know’’.
The water and beach pollution are also happen in the Balikpapan beach and Balikpapan straits. When I stayed in Kampung Baru Tengah, I was easily to catch the crab and fish in the back of my houses, but now, you should go to more deep in the ocean.
That is the reforestations of the tree in Borneo and the water pollution in the Balikpapan straits were harm the local indigenous peoples who’s mostly are fisheries and farmer. That is why most of them were still living below the poverty line. They still can not pay their kid’s School tuition fee.
Communist influences.
When I was four years old, around 1964, my father enrolled me to Playgroup school name ‘’TK Persit Kartika Chandra Kirana’’. I remembered that my teacher shout to all the kids in the class: ‘’Children, do you know who can give you a pie cake right now,’’ said Young women teacher in the front of the class. ‘’God can give you a pie cake like this. No, this is I make it my self. God can not give you the cake,’’ said the Teacher, who answer her question. The women, later was a member of ‘’Gerwani’’. Gerwani was one of the sub-groups of Indonesian Communist Party members which the Government later revoked them, after the 1965 Coup de tat.
In the front of my Class, there was a dormitory and luxury real estate which a lot of Russian marine was stayed. In the 1960’s, a lot of Russian (Soviet Union) Submarine were have a special Navy harbor in Balikpapan city. Of course, Indonesia has a good relation with Soviet Union also China in 1960’s. We need Russian and China to liberate the Papuan from Netherlands occupations and in order to fight with Malaysian in the border.
When my father was know that the Play Group teacher was a communist members, he moved me to another schools. I was still remembering that my teacher called us to use a Boy Scouts shirt to cheers Indonesian First President Sukarno who was visit to Balikpapan in 1964. Thousands of Boy Scouts from Play Group school, Elementary School, Junior High School to Senior High School were cheers the first President happily in the side line of the street, from Balikpapan Airport to Balikpapan Semayang Harbor.’
Perjalanan yang b elum selesai (3)
http://www.allvoices.com/contributed-news/4714200-perjalanan-yang-b-elum-selesai-3
Oleh : Muhammad Jusuf
Hijrah ke Jakarta. Peristiwa Malari 1974. Menggondol ijasah sekaligus SMA dan STM
http://www.allvoices.com/contributed-news/4714200-perjalanan-yang-b-elum-selesai-3
Pada tanggal 3 Januari 1973, Julak-julakku (Pade dalam bahasa Jawa), Nenek, Paman dan Acil (bibi), mungkin hamper seratus orang seluruh saudara-saudara ku, baik dari pihak Ayahku, dan Ibuku mengantar keluargaku ke bandara Sepinggan, Balikpapan. Pada hari itu, Aku, bersama delapan , satu kakak perempuan, dan enam adik-adikku, Ayah dan Ibuku akan berangkat ke Jakarta. Ayahku, memutuskan pindah ke Jakarta, dari kesatuannya, ketika itu Intendam (Komando Perbekalan) dengan kesatuan yang sama di Jakarta. Dulu kantornya persis di samping kanan SMP Negeri 14 Jakarta Timur, Jatinegara, atau dikenal Bali Mester. Kini, kantor itu sudah berdiri megah Mall Pusat Grosir Jatinegara.
Bagi ku, ini adalah kedua kalinya aku berkunjung ke Jakarta, setelah pada awal tahun 1070 lalu, aku mengantar Ayahku ke Jakarta untuk berobat, dan dirawat selama 3 bulan di Rumah Sakit Cikini di Jakarta karena sakit maag yang sudah parah. Ayahku, sejak beberapa tahun terakhir memang mengindap penyakit maag. Itulah sebabnya, dia beberapa tahun sebelumnya, yang sempat masuk sekolah Secapa (sekolah calon perwira) di Cimahi, Jawa Barat, harus ‘’dipulangkan’’ kembali ke Balikpapan, karena menderita sakit maag. Karena gagal itulah, Ayahku, yang ketika pindah ke Jakarta sudah berpangkat Peltu (pembantu letnan satu), sampai pensiun, pada tahun 1984 lalu, juga tetap berpangkat Peltu.
Praktis, hamper satu pesawat Dakota ‘’Bouraq’’ ketika itu hamper penuh dari seluruh keluarga kami yang bersepuluh. Adik bungsu kami, Bambang Widodo, ketika itu masih berumur sekitar tiga bulan, jadi masih harus digendong Ibuku di sepanjang penerbangan yang ‘’pesawatnya’’ masih menggunakan bangku beralaskan ‘’terpal’’. Ayahku, memang, membayar sendiri kepindahan ini, karena harus menjual rumah kami yang dua tingkat di Kampung Baru tengah seharga Rp 1,250.000. Ketika itu, uang sebesar ini cukup besar, sehingga ayahku masih bias membayar Rp 400,000 untuk uang ‘’membeli’’ rumah di Asrama Kobekdam (dulu Intdam) No.12, dulu persis di belakang terminal Cililitan Jakarta Timur
Dua jam kemudian, sekitar pukul 11 pagi, kami sudah mendarat di Bandara Kemayoran Jakarta. Pak Dumyati, sahabat Ayahku yang pernah bertugas di Balikpapan, dan yang juga menyarankan agar Ayahku pindah saja ke Jakarta Nampak bersama keluarganya, Isteri dan anaknya, Tony menjemput di Bandara Kemayoran. Karena, dia hanya naik Fiat 1100, yang kecil dan hanya cukup untuk empat orang, terpaksa dia ‘’menyewa’’ mobil ‘’box’’, agar barang-barang yang kami bawa cukup banyak muat. Kami pun seluruh tujuh anak-anak Ayahku duduk dan masuk di dalam box di belakang. Ayahku , Ibuku dan Bambang Widodo duduk bersebelahan dengan supir.
Kami, sebelum pindah di Asrama Kobekdam, sempat tinggal sekitar 3 bulan di Losmen Jaya I, Jatinegara, persis di depan SMAN No.22 Jatinegara. Karena, ketika kami tiba, Ayahku belum mendapatkan rumah , dan rumah yang akan dibeli masih ditempati ‘’penghuni lama’’ yang rupanya sudah mulai angkat kaki, menjelang pensiun.
Kondisi Jakarta ketika itu, hamper sama seperti yang saya sudah lihat pada tahun 1970,an. Penduduknya belum sampai 4 juta jiwa. Jalan-jalan masih sepi, belum banyak kendaraan, apalagi sepeda motor. Namun, beca masih mendominasi jalan-jalan di Jakarta. Orang-orang miskin pun banyak tidur di depan pertokoan, dan belum ada mall-mall seperti yang kita lihat sekarang. Namun, sepertinya udaranya masih segar, belum ada pencemaran parah, dan banjir pun belum separang sekarang
Tahun 1974, ketika aku masih duduk di SMPN 14 Jakarta Timur, ada satu peristiwa besar di Indonesia, yaitu peristiwa Malari tahun 1974. Ketika itu, kami pelajar di SMP Negeri 14 belum tahu banyak soal-soal politik. Kami hanya tahu, guru kami hanya memulangkan kami lebih cepat, karena katanya kerusukan takut menjalar sampai ke Jakarta Timur.
Peristiwa Malari, seperti yang saya tahu kemudian adalah peristiwa unjuk rasa besar-besaran yang dilakukan dan dimotori para mahasiswa, yang ketika itu terkenal tokohnya bernama Hariman Seregar, Syahrir. Mereka melakukan domostrasi menentang kunjungan Perdana Menteri Tanaka sebagai protes atas donomasi Jepang atas perekonomian Indonesia. Itulah sebabnya ketika itu, apa pun mobil dan sepeda motor buatan Jepang dibakar massa ketika mereka temui di jalan-jalan. Namun, unjuk raya memang sangat tidak terkendali, karena massa mulai membakar berbagai ban bekas, kendaraan buatan Jepang yang lewat, sampai membakar ‘’proyek Senen’’ (Pasar Senen).
Itulah sebabnya, PM Tanaka mempersingkat kunjungannya di Indonesia, sehingga kunjungannya pun dari Bandara Halim Perdana Kusuma ke Istana Negara untuk menemui Presiden Soeharo, menggunakan Helikopter. Akibat unjuk rasaya anti-jepang inilah, mengapa Jepang lebih melakukan pendekatan budaya dan social juga, ketimbang hanya pendekatan ekonomi dalam beberapa decade belakangan ini.
Pada tahun 1974, aku lulus SMP, dan aku pun ketika itu belum segera memutuskan akan masuk Sekolah Menengah Atas (SMA) umum, atau Sekolah Teknik Mengah (STM). Aku bimbang, mengingat aku memiliki sepuluh Saudara, karena tiga tahun belakangan menyusul dua adiknya lahir, Yuni dan Eko,s ehingga apakah aku masuk STM agar bias cepat kerja, sehingga segera bias membantu ayahku yang hanya berpangkat ‘’Peltu’’ namun menghidupi selusin orang, termasuk 10 anak-anaknya, atau aku masuk SMA, karena aku masih bercita-cita masuk perguruan tinggi agar menjadi sarjana.
Di dalam kebimbangan itulah, akhirnya, ketika Ayahku menanyakan kepadaku, apakah aku mau masuk SMA atau STM, maka aku memutuskan masuk STM. Akhirnya, karena aku tidak lulus tes masuk STM Pembangunan di Rawamangun yang memiliki fasilitas lengkap dan sekolah berlangsung selama 4 tahun, aku akhirnya dapat sekolah ‘’STM’’ Jaya I, ketika itu terletak di Jalan Budi Utama Jakarta Pusat, persis disamping kanan STM Negeri I atau SMA Negeri ! Budi Utomo Jakarta Pusat.
Aku mengambil jurusan mesin. Namun, satu minggu kemudian, aku bimbang, sebenarnya aku berminat masuk SMA. Akhirnya, diam-diam, menggunakan tambungan ku sendiri, aku masuk sekolah SMA Pancasila II di Jakarta Timur, persis di depan Losmen Jaya I Jatinegara, atau paginya ditempati SMAN 22. SMA Pancasila II yang ketika itu Kepala Sekolahnya adalah Soewandy, memang mengkhususkan diri untuk masuk sore atau malam, sekitar pukul 18.00 sampai pukul 10.30 malam. Itulah sebabnya, sekolah ini banyak sekali siswa yang pagi atau siangnya para karyawan swasta maupun pegawai negeri yang meneruskan sekolah mereka, agar meningkat karir dan status mereka. Sedangkan STM Jaya I khusus masuk siang, karena paginya digunakan untuk Sekolah Teknik Negeri !. Sekolah Teknik ketika itu setara Sekolah Menengan Pertama (SMP), sebagai sekolah kejuruan persiapan masuk untuk STM.
Ketika aku memutuskan untuk masuk sekolah , sekaligus STM dan SMA, memang sudah aku rencanakan kalau ujian akhirnya nanti aku harus memilih, apakah aku harus ikut ujian STM dulu, atau SMA, karena ujian negaranya ketika itu biasanya serentak pada pagi hari, jadi harus giliran. Alhamdulillah, waktu rupanya berpihak padaku. Ketika itu Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang dijabat Pak Dr.Daoed Joesoef mengadakan perubahan akhir tahun ajaran dari Desember ke bulan Juni, untuk mengikuti pola dan standar international, yang umumnya sekitar bulan Juni. Sehingga masa sekolahku yang harusnya tiga tahun, harus ditambah enam bulan, menjadi 3 tahun enam bulan. Sedangkan, STM, karena pertimbangan lulusan tenaga kelas menengah dibutuhkan pasar kerja, masa sekolahnya tidak diperpanjang. Mereka tetap mengikuti ujian akhir pada bulan Desember 1978. Sedangkan SMA aku lulus Juni 1979. Jadilah, aku sekaligus menggpndol ijasah dua, lulus SMA dan STM sekaligus. Kalau, waktu itu ada rekor MURI, mungkin aku sudah dapat sertifikat. Menjadi orang pertama yang berhasil menggondol sekolah dan ijasah di dua jurusan dan sekolah SMU yang berbeda.
· Wartawan Freelance dan Dosen Komunikasi (Jurnalistik) Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Hidayatullah.
Unfinished Journey (episode 3)
http://www.allvoices.com/contributed-news/5102263-unfinished-journey-episode-3
By: Muhammad Jusuf*
January 3, 1973, my uncles, nephew, grandmother, and other relatives, about 100 peoples, relatives from my mother sides, and also relatives from my father side were stand in the waiting hall in Sepinggan Airport, Balikpapan. Today was a historic days for my entire families, because our family went to move to Jakarta. My father had to move on his duties to Jakarta. That was why my relatives, my grandmother and others relatives had to cheers to say “good by’’ to my family.
Event my father an infantry sergeant soldier, but we had flight to Jakarta by private airlines company of Bouraq. The Airplane was a Dakota’s with two propellers on his two wings. The airplane capacity only for 40 passengers, and the airplane was not empty yet, because they have one pilot, one co-pilot, and four cabin crew, and 10 of my families, father, mother, and 8 of my brothers and sisters, four sisters and four brothers. Of course the airline chairs was not comfortable like the current airline sofa, because the Airplane chairs was made from simple thin leather.
Event this travel was the travel moving for our entire family, but this travel was not the first time to me to visit to Jakarta, because in 1970, two years earlier, I accompanied my father who went to Jakarta to check and to hospitalized in Cikini Hospitals in Central Jakarta. My father was hospitalized in Cikini Hospital around 3 months to recover for his long stomach disorder. Thanks to God Almighty, because my father recover from his long sickness, and because in my father hospital room, there were four peoples whose were also the same sickness type, but only my father survived, because tree other patients were passing a way cause by not discipline on their diet. As soldiers, my father, name Agusno, was a discipline person. The first months in the Hospitals, my father only drink milk, and the second months he was only eat and drank milk mix with corn mush. And the third months he had only eat rice mush mix with vegetables, especially amaranth. Tree other peoples in the same room in Cikini Hospital were passing a way, because event the medical doctor was advice them to eat the ingredients like my father was eats, but they had eats everything, from chicken to steak and to smoked in the room when the doctor was not on duty in the room.
We were flight to Jakarta around 09.00 local times, and we arrived two hours later in Kemayoran Airport Jakarta. Major Dumyati, my father colleagues and his wife and his only one son has already stand by in the Kemayoran Airport. He was rent a box car to bring my hall family. Mr Dumyati himself was drove his FIAT compact small car.
Mr Dumyati brought us to small motel in Jatinegara, East Jakarta. Our family stays in motel around tree months, before we went to move to Infantry dormitories or small military houses complex like a small dormitory in Cililitan areas, East Jakarta. The military complex has only has one room, so my father should build another one small room in the second floor in order to secure his 10 peoples in two rooms.
A few days later, my father registered my to Junior High School, namely SMP Negeri XIV (Government own State Junior High School Number 15) in Jatinegara areas, East Jakarta. 1970’s, the density of Jakarta only have a 4 millions peoples where the pedicab (tricycle) were dominant mode transportations beside the public bus and small taxi car.
One of the most historic to my hall life was when I had attended a second year at Junior High School, because on 15 January 1974, a riot broke out in Jakarta after a mass student protest turned violent. That was my teacher give an announcement to the students that they had to return their home earlier than the school time program to avoid any violent or any riots victims.
Malari incident was a mass student protest that turned into a riot where thousands of rioters set fire to hundreds of vehicles and buildings in Jakarta. Malari is an acronym for Malapetaka Lima Belas Januari or the Fifteenth January Disaster, since the event happened on 15 January 1974.
After Suharto was re-elected president in 1973, his popularity among the public was not as strong as it was in 1967. There was a growing displeasure among the masses, especially among the elites and the middle class. These included several top commanders within the armed forces itself who openly criticized Suharto and his regime. All were disgusted with the increasing corruption within his government, the amount of foreign investment in Indonesian economy, and the power held by Suharto’s personal counselors (asisten pribadi/Aspri).
In 1973, students from various universities held a number of protests showing their strong disagreement with the government regarding foreign investment. They also sounded their opposition against foreign influence, poor economic condition and the spread of corruption within the government.
By late 1973, General Soemitro, then head of Kopkamtib, Operational Command for the Restoration of Security and Order, began holding talks in campuses to ease the students. On 30 November, several prominent persons, including former Vice-President Hatta, plainly criticized the government’s policy in handling foreign investment in Indonesia.
On 14 January 1974, Japanese Prime Minister Kakuei Tanaka visited Jakarta. Japan was then Indonesia’s largest foreign investor, thus naturally making it the most hated country among those opposed to foreign investment. The arrival of Tanaka became the pretext for students to hold mass protests.
At first, the students gathered at Halim Perdanakusuma, but failed to enter the airport complex since the security forces managed to secure the area.
Suddenly, and without warning, the protest turned violent after some protesters began to burn and destroy Japanese-made vehicles and buildings throughout their march. The security forces tried to hold back the protesters but to no avail. In all, the Malari incident leaved 11 people dead, 300 injured and 775 arrested. Hundreds of cars and buildings were burned and destroyed.
After the incident, Suharto took several critical steps to prevent further mass rebellion. He dissolved the president’s private counselor institution and took over the commandership of Kopkamtib himself. Thus, once and for all, putting an end the rivalry between Ali Murtopo and Soemitro, which have caused much damaged to his regime during the last few years. He also fired his chief intelligence, Soetopo Juwono, then head of Bakin, State Intelligence Coordination Agency, and replaced him with Yoga Sugama.
A number of student leaders such as Syahrir and Hariman Siregar were brought to court. Most public meetings were suspended and several newspaper and magazines were banned.
Senior High School or Senior Technical High School
When I passed Junior High School, I was confused that I should register to General Senior Hight School or Vocational School of Technical High School. I had knew that My father could not have a purchasing power to pay my University tuitions fee, after I pass the Senior High School, because as a lower ranking sergeant with his ten kids were hard to him to feed and to pay our school cost in a higher school institutions.
That was why my father registered me to enter a Vocational school of Senior Technical High School in Lapangan Banteng Street, Central Jakarta. But, with my personal saving, I registered my self to Senior High School in East Jakarta. So, in the Morning I was attended a Technical High School and in the evening I was also attended a Senior High School.
Thanks to the change to the school time schedule from the December to June. The Education and Culture Minister Dr.Daoed Joesoef release his degree about the time of School holidays and schedule of student’s activities. In the last schedule, the end of semester was every December, but started in 1978, the end of semester was started in June. Luckily, the change were only valid for General School not for Vocational School, especially for Technical High School, because the Minister said, the jobs market were badly needs a workers whose had a Technical High School diploma. So, I took the state general examinations for Technical High School in December 1978, and I took an examinations for Senior High School in June, 1979, because all School, especially for non vocational school had an extended the length of time to study another six months. So, that was why I was successfully to pass School, Senior High School and Vocational School of Senior Technical High School.
Perjalanan yang belum selesai (4)
http://www.allvoices.com/contributed-news/4727238-perjalanan-yang-belum-selesai-4
Menjadi Pegawai Negeri termuda. KKN ria marak di Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi dan Kementrian lain secara meluas.
Oleh: Muhammad Jusuf *
Tepat pada tanggal 1 Juni 1980 berdasarkan surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang ketika itu dijabat Prof.Dr.Daoed Joesoef saya diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil dalam pangkat Juru Muda TK I golongan I/b dengan Nomor Pokok Induk Pegawai (NIP) 130782956. Golongan I B itu setara dengan ijasah Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Saya diangkat menjadi pegawai negeri sipil setelah mengalami masa percobaan atau masa calon Pegawai Negeri Sipil selama sekitar 9 bulan. Salah satu alasan mengapa saya menggunakan ijasah SMP, karena ketika saya mengajukan lamaran itu, ketika saya masih duduk di kelas tiga SMA, sekitar bulan Akhir 1978, sedangkan tes pegawai negeri sekitar awal bulan 1979, dan diterima dan mulai bekerja sekitar bulan Juni 1979, satu bulan setelah saya lulus SMU yang diperpanjang hingga enam bulan, yaitu sekitar bulan Mei 1979.
Ketika itu, memang saya hanya ‘’iseng’’ melihat iklan salah satu Koran ibukota bahwa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tengah menerima lowongan calon pegawai negeri sipil. Lalu saya mengantar sendiri lowongan itu ke Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, karena disana juga ada pengumuman lowongan di depan dinding Bagian Kepegawaian, yang ketika itu Kepala Bagiannya dipimpin Drs.Zakir Boneh.
Saya lantas dipanggil untuk mengikuti tes calon pegawai Departemen Pendidikan dan Kebudayaan yang dilakukan serentak, saya kebagian tes di Stadion Utama Senayan, kini bernama Stadion Bung Karno, atau lapangan Sepakbola senayan.
Stadion ketika itu terasa seperti tengah menonton sepak bola, karena penuh dengan para peseerta. Beberapa bulan kemudian sesuai dengan petunjuk dan pengumuman yang ada, saya melihat hasil pengumuman lulus tidaknya saya menjadi pegawai negeri langsung di kantor Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi di Pintu I Senayan. ‘’Syukur Alhamdulillah, saya lulus tahap pertama, dan diharuskan mengikuti tahap kedua, berupa wawancara dan tes praktek, yaitu tes mengetik’’. Bulan berikutnya, saya pun menghadiri tes wawancara, yang ketika itu dilakukan Pak Taslim Umar, yang sudah menjadi salah satu pimpinan di Direktorat itu. Seusai wawancara, saya langsung tes mengetik di ruang bagian ‘’penggandaan’’ yang ketika itu dipimpin Bapak Sudirman.
Saya tidak mengira, ternyata, setelah saya dinyatakan lulus, kemudian saya memang ditempatkan dibagian ‘’penggandaan’’ bagian umum yang Kepala Bagiannya dipimpin CST Kansil, SH, yang ketika itu sudah ‘’nyambi’’ mengajar di berbagai perguruan tinggi , antara lain mengajar di Universitas Kristen Indonesia (UKI).
Di bagian penggandaan ini, saya ditugaskan untuk menjadi spesialis ‘’mengetik’’, karena tugasnya hanya mengetik surat-surat yang konsepnya dikirim dari berbagai penjuru Direktorat, mulai dari Sekretariat, Direktorat Perguruan Tinggi Swasta, Direktorat Kemahasiswaan, Bagian Perencanaan, dan seluruh bagian lain, karena memang di bagian penggandaan inilah memang banyak tenaga ‘’pengetik’’ surat. Bagian ini juga merupakan bagian yang bertugas untuk menggandakan buku-buku, termasuk buku untuk pegangan para dosen di berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
Seperti saya sudah katakana di awal, salah satu pertimbangan saya melamar menjadi pegawai negeri sipil itu adalah, karena kondisi ekonomi keluarga saya yang ‘’pas-pasan’’. Dengan orang tua yang hanya berpangkat Peltu, dengan sepuluh orang anak, saya sudah membayangkan, akan sulit sekali bagi Ayah saya untuk membiayai seluruh anak-anaknya untuk melanjutkan ke perguruan tinggi.
Kakak saya saya, ketika itu, yang sudah lulus SMP, untuk menjadi perawat saja harus menunggu dua tahun kemudian, sebelum ayah saya memiliki uang baru dimasukkan ke Sekolah Perawat di RSPAD Gotot Subroto, Jakarta.
Saya sendiri termasuk ‘’bangga’’, walaupun masuk di level rendah, dan mungkin menjadi pegawai negeri sipil yang termuda, karena masih berusia 18 tahun, dan masuk masa percabaan di usia awal 17 tahun. Setelah setahun saya bekerja menjadi pegawai negeri sipil dengan gaji golongan 1/b Rp 18,500 per bulan, ketika itu tergolong pas-pasan. Hanya cukup untuk transport dan makan siang sebulan. Tidak bias dan tidak cukup untuk keperluan di luar kebutuhan pokok itu.
Saya kira, saya masuk di Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi mungkin karena di level bawah, I B, dan keterampilan mengetik saya yang tergolong bagus, cepat, karena saya sejak kelas ! SMA sudah mengikuti kursus ‘’mengetik’’ yang menggunakan 11 jari. Ketika itu, kursus mengetik ‘’Caraka College’’ kebetulan bersebelahan dengan gedung SMA II Pancasila, sehingga satu dua jam sebelum masuk sekolah SMA saya seminggu tiga kali bias mengikuti kursus itu dengan lancar.
KKN
Di usia saya, yang baru 18 tahun, tentu saja pengetahuan saya mengenai Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) belumlah tidak seluas seperti sekarang. Namun, ternyata saya telah menyadari, KKN itu telah menyeliputi seluruh birokrasi di Indonesia, tidak terkecuali di Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Ini tergambar dan masih saya ingat, ketika harian Sinar Pagi dan beberapa harian Ibukota ketika itu menulis adanya kasus korupsi yang dilakukan oknum di Bagian Perencanaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Nilainya, tergolong besar, mencapai Rp 6 miliar, suatu angka yang ketika itu cukup besar. Pejabat yang menjadi ‘’tertuduh’’ ketika itu memang tidak sampai dilimpahkan ke pengadilan, hanya dipindahkan saya ke lingkungan di Universitas Indonesia.
Saya pun masih ingat, ternyata tes masuk yang diikuti ribuan calon pegawai negeri sipil yang berlangsung di Stadion Utama Senayan ternyata bukan berarti mencerminkan bahwa tes telah berlangsung ‘’bersih’’ tanpa KKN.
Bayangkan saja, di Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, yang ketika itu Direktur Jenderalnya dipegang Bapak Prof.Dr.Donny Tisna Amidjaja, dan Menterinya Bapak Daoed Joesoef, KKN sudah merajalela. Ada anaknya menjadi pegawai negeri disitu, di saat bersamaan orang tuanya adalah pejabat nomor dua di Direktorat Jenderal ini, bahkan mantu dan saudara-saudara lainnya pun juga masuk. Ada pegawai, yang memang memiliki Paman yang sudah senior, dan kalau saya perhatian, hamper semua memiliki hubungan sanak saudara dan family. Itulah sebabnya, bila paman, Bapak, dan saudara mereka yang melakukan KKN, tentu saja pasti di dukung oleh keluarga mereka yang memang sudah ada di dalam, baik terlibat langsung maupun tidak, sehingga mereka ‘’aman’’ dan tidak bocor ke luar atas apa yang telah mereka lakukan.
Korupsi ketika itu, mulai dari ‘’mark up dan upeti’’ proyek, perjalanan dinas fiktif, upeti dari penjual took, karena walau mereka menulis harga pembelian di kwitansi sesuai dengan jumlah yang dipertanggungjawabkan, namun atas jasanya membeli berbagai barang di tokonya, pemilik ‘’toko’’ memberikan ‘’upeti’’ kepada ‘’kepala proyek’’ atau pimpinan yang memiliki wewenang untuk melakukan pembelian.
Saya menduga, suasana ber – KKN – ria ini juga ada di seluruh birokrasi dan di suluruh Departemen atau Kementrian di Indonesia, merata dari Sabang sampai Merauke, utamanya di kantor-kantor pusat. Itulah sebabnya, sampai President Soeharto ‘’turun’’, KKN ini masih sulit diberantas sampai ke akar-akarnya, sampai kini, mungkin.
Bayangkan saya, kita yang tidak tahu apa-apa, kemudian ditawari oleh bagian keuangan atau bagian lain untuk menandatangani suatu kwitansi, tanpa kita sendiri tahu untuk apa kita menandatangani kwitansi itu, dengan janji, kalau kita mau bias memperoleh bagian antara 20% sampai 50% dari nilai ‘’kwitansi fiktif’’ yang kita telah tandatangani. Belum lagi, kalau kita bersedia menandatangani berbagai berkas perjalanan dinas, termasuk berbagai kwitansi, padahal perjalanan dinas ini kita sendiri belum pernah melakukannya. Tentu saja bagian yang ‘’memanipulasi’’ data ini, sudah berpengalaman dan lihai, sampai-sampai, mereka pun memiliki bukti bekas tiket pesawat atas nama kita, kalau kita bersedia menandatangani. Konon, kabarnya, mereka mendapatkan resi tiket asli itu dengan membelinya di berbagai biro perjalanan. Bukti tiket pesawat itu asli, tapi palsu, artinya, tiket dengan nomor yang sama dengan nama yang berbeda bias di jual ke calon penumpang lain yang memang membutuhkan untuk penerbangan itu. Begitu pula denan tiket pelayaran dan menggunakan Kereta Api.
Saya perkirakan, manipulasi perjalanan dinas ‘’fiktif’’ ini, kalau dijumlahkan di seluruh Indonesia, jumlahnya bias miliaran rupiah, bahkan mencapai ratusan miliar. Kalau dijumlahkan dengan korupsi di bidang lain, berarti ‘’negara’’ telah dirugikan triliunan rupiah per tahunnya. Dan kalau itu telah berlangsung lebih 30 tahun, berarti, mungkin kini Indonesia, paling tidak sama makmurnya dengan Malaysia, yang sudah memiliki income per kapita yang jauh lebih tinggi dibandingkan Indonesia.
Dana yang berhasil di korupsi itu, juga mungkin sudah berhasil menyatukan Pulau Papua, Kalimantan dan Sumatera dengan jalan raya antar propinsi yang mulus. Kita pun sudah sejak awal telah memiliki jembatan ‘’Suramadu’’ dan kemungkinan telah memiliki Jembatan yang menghubungkan Bali dan Pulau Jawa, serta Jempatan antara Jawa dan Sumatera melalui Selat Sunda.
· Wartawan Freelance dan Dosen Komunikasi (Jurnalistik) Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Hidayatullah.
You need Indonesia news info, please visit below:
(http://www.allvoices.com)
News on September, 2009
Dilema
Oleh: Muhammad Jusuf *
Seandainya korupsi bukan suatu masalah besar di
Mengapa saya bilang korupsi menjadi pokok pangkal masalah, karena bila sejak awal korupsi tidak merajalela, kita mungkin sudah tidak memiliki waktu banyak lagi memikirkan masalah-masalah yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan lebih simple, tidak sekompleks seperti yang kita hadapi sekarang.
Korupsi yang menggerogoti uang rakyat melalui APBN yang menurut banyak para peneliti dan pengamat, juga pernah diakui juga oleh almarhum begawan ekonomi Prof .Dr.Soemitro Djojohadikusomo rata-rata antara 30% sampai 40% dari sejak awal Orde Baru sampai berakhirnya Orde Baru, bahkan diduga masih terasa sampai kini, belum lagi korupsi langsung oleh pegawai Pemerintah dari kantong rakyat melalui pengusaha melalui pembuatan kartu tanda penduduk (ktp), sertifikat rumah/tanah, tilang siluman oleh polisi di berbagai jalan raya, tilang siluman kasus pidana dan perdata di pengadilan oleh para jaksa dan hakim, serta pihak penegak hukum lainnya, tilang siluman pejabat penjara bagi terpidana yang ingin peroleh remisi dan ribuan tindak korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) lainnya di tengah masyarakat kita.
Bila korupsi tidak merajalela sejak awal, dana triliunan rupiah sudah kita gunakan sejak awal untuk mengirim putra-putri terbaik Indonesia untuk sekolah ke berbagai perguruan tinggi terbaik di dunia, kita pun sudah memiliki jembatan Suramdu sejak awal tahun 1990'an, juga jembatan serupa yang bisa menghubungkan Jawa dan Bali, Jawa-Sumatera, kita sejak awal sudah memiliki jalur kereta api dua arah di Jawa, dan jalan trans Kalimantan serta di Papua, serta infrastruktur lainnya, sehingga kini seharusnya kita sudah sama maju dan kemakmuran kita sudah setara bahkan lebih maju dibandingkan dengan Malaysia, yang kini sudah menjadi negeri yang mulai melewati masa dari negeri industri ke masa industri jasa. Tidak heran kini
Beberapa saat setelah Merdeka, tahun 1957 lalu, Malaysia banyak mengimpor guru dan dosen dari Indonesia, tahun 1980'an, mereka gunakan `'limpahan rezeki'' minyak selain membangun berbagai sarana infrastruktur, juga tidak melupakan melatih Sumber Daya Manusia (SDM)mereka dengan mengirim ribuan pelajar mereka untuk sekolah dan kuliah ke seluruh sekolah/perguruan tinggi terbaik di dunia seperti Amerika Serikat, Inggris, Jerman, dan Jepang.
Saya masih inggat pada tahun 1982-1983, ribuan pelajar
Kini, para mahasiswa yang dikirim, antara lain oleh Yayasan MARA itu, sudah menjadi para pemimpin, manager dan tenaga terdidik di
Kini
Korupsi dari masa ke masa
Kita harus akui dan acungkan jempol, memang, bahwa Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono atas komitmen dan keberhasilannya mulai menggebrak dalam upaya memberantas KKN dI Indonesia. Namun, keberhasilan itu masih di `'level'' atas melalui Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Padahal KKN secara `'massive'' masih terjadi di level menengah ke bawah, yang nilainya mungkin masih 99% dari nilai total kasus korupsi di Indonesia dibandingkan yang `'diurus'' KPK, mulai dari pengurusan KTP di kelurahan, tilang siluman oleh Polisi Lalu Lintas, tilang mafia peradilan, mulai dari Jaksa, Hakim, sampai Panitera dan penegak hukum lainnya, sampai tender kelas Rp 50 juta. Proyek senilai Rp 1 miliar ini pun bisa dibagi ke kelas kecil ini, mereka bisa menggunakan 50 perusahaan untuk mengikuti tender, walaupun muaranya sama, satu pemilik, atau siapa pun pemenangnya, sudah ada kaitan KKNnya dengan pejabat pemerintah yang mengurus proyek itu.
Banyak proyek besar, yang sebenarnya ada unsur KKN-nya, namun tidak bakalan bisa dijerat pasal korupsi/pidana.
Bukan kata Pengusaha itu saja, KKN di PLN ini memang saya alami sendiri sudah sejak lama, KKN sudah `'masive'' di perusahaan ini, mulai dari pengurusan tambahan atau sambungan sampai kkn berbagai proyek, tidak heran bila pembangunan infrastruktur PLN selain mahal, juga memerluhan subsidi hingga triliunan. Padahal itu semua, akibat biaya tinggi KKN sejak awal, yang kini bebannya baru terasa.
KKN ini bukan hanya kabar anggin dan selentingan saja, terutama korupsi di level bawah dan massif di semua sector ini. Ketika saya menjadi pegawai negeri di Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, tahun 1979-1982 lalu, ketika diterima menjadi pegawai negeri, saya kira berlangsung bebas dari KKN, mengingat proses tesnya yang panjang, dan diadakan di Stadion Utama Bung Karno. Ketika saya mulai kerja, baru saya tahu kalau banyak diantara pegawai yang diterima sudah terlibat KKN, ada Bapaknya yang jadi Sekjen, mantu perempuan yang Bapa Mertuanya jadi Sekjen, ada Kakak yang satu bagian, Om, tante, dan keponakan. Pokoknya, kalau dirunut dan diusut, ada bau KKN.
Masuk kerja saja sudah melalui proses KKN, apalagi mulai kerjanya. Karena ada unsur kekeluargaan, maka antara sesama sedarah mereka bisa menjaga `'rahasia'' ber-KKN-ria. Mulai dari kwitansi fiftif untuk perjalanan dinas, pembelian kertas, sampai proyek pengadaan buku.
Korupsi ternyata bukan hanya dilakukan para pengusaha di perusahaan swasta dalam mengikuti tender, tetapi juga dilakukan kalangan Lembaga Swadaya Masyarakat dan Yayasan bila mereka ingin menang tender sebagai konsultan proyek di suatu Departeman Pemerintah.
Ada salah satu tenaga konsultan di NGO dan Yayasan terkenal bercerita, kalau mau menang tender sebagai konsultan di beberapa departemen, mereka harus berkorban kehilangan antara 20%-30% dari nilai proyek.
Di masa lalu, ada Menteri yang kerap membawa beberapa pengusaha kalau meninjau suatu proyek di lapangan. Suatu ketika, ketika ada kewajiban pengalihan saham dari perusahaan besar ke pemerintah
Jadi, KKN di Indonesia, masih terjadi secara massif di level menengah ke bawah, yang kalau dinilai total triliunan rupiah. baik di kalangan pemerintah maupun swasta, baik menggerogoti uang APBN maupun uang rakyat.
Jadi, mampukah tim kabinet Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono dan Boediono menyelesaikan dilemma
*Wartawan Freelance dan dosen Komunikasi (Jurnalistik) Universitas Nasional
(http://www.allvoice s.com/contribute d-news/4038163- dilema-indonesia)
Perjalanan yang belum selesai (5)
http://www.allvoices.com/contributed-news/4734473-perjalanan-yang-belum-selesai-5
Kasus ‘’Bulog’’ yang melibatkan Budiadji, merupakan kasus terbesar. Berhenti menjadi pegawai negeri. Kuliah di California State Universiti, Fresno. Bekerja di ‘’Restoran King’’ di Fresno.
Oleh: Muhammad Jusuf *
Pada era tahun 1970’an dan 1980’an, ketika saya menjadi Pegawai Negeri memang pemberitaan mengenai kasus korupsi, kolusi dan nepotisme belum terlalu marak. Mungkin karena media ketika itu belum terlalu banyak. Apalagi televisi dan radio masih dimonopoli Televisi Republik Indonesia (TVRI) dan Radio Republik Indonesia.
Korupsi yang menonjol dan jumlahnya cukup besar dan marak diberitakan di berbagai media massa salah satunya adalah kasus ‘’Bulog’’ yang melibatkan Budiadji. Sedangkan banyak kasus lain, mungkin memiliki skala yang cukup besar, namun tidak muncul ke permukaan. Memang, pada masa ini, terutama pada tahun 1980’an yang namanya ‘’mafia peradilan’’ sudah marak. Ada kasus ‘’Judi’’ di Pengadilan Jakarta Timur pada era ini malahan bisa dijadikan ‘’bisnis’’, bukan hanya bagi para pengacara, namun juga Jaksa, Hakim, Kepolisian, bahkan juga melibatkan ‘’wartawan’’, karena sebagian dari mereka juga turut menikmatinya.
Ada kasus judi misalnya, seharusnya ‘’terdakwa’’ bisa dihukum cukup berat. Namun, karena ada ‘’permainan’’ mungkin dewasa ini disebut ‘’mafia peradilan’‘ terdakwa, walau tetap dihukum, namun dengan hukuman ‘’ringan’’ , terdakwa divonis ‘’enam bulan’’ namun dengan masa percobaan satu tahun. ‘’Artinya’’ terdakwa tidak dihukum badan, kecuali dalam satu tahun berikutnya akan melakukan tindak pidana.
Itulah sebabnya, kasus mafia peradilan ini tidak muncul terlalu banyak ke permukaan, karena sebagian ‘’oknum’’ wartawan telah ‘’disogok’’ oleh pengacara, Jaksa, Hakim, dan oleh polisi. Tidak heran, kalau di pengadilan-pengadilan terjadi seorang ‘’pengacara’’ membagi-bagikan uang kepada wartawan di ‘’press room’’. Uang juga konon telah disalurkan ke para Jaksa, Hakim dan polisi.
Setelah menjadi Pegawai Negeri tidak lebih dari tiga tahun, saya mengundurkan diri dari Pegawai Negeri, per 2 Januari 1982, saya resmi memperoleh Surat Keputusan ‘’pemberhentian saya dengan hormat’’, karena saya memutuskan untuk melanjutkan sekolah ke Amerika Serikat, tepatnya ke California State University, Fresno, California.
Padahal, saya sudah diusulkan atasan saya untuk naik pangkat, dengan ‘’penyesuaian ijasah’’, mengingat ketika saya melamar masih kelas III SMA dan menggunakan ijasah SMP, saya ketika diangkat menjadi pegawai negeri masih golongan I/B yang pekerjaannya adalah ‘’spesialis mengetik’’ dan pekerjaan-pekerjaan yang mirip ‘’office boy’’ seperti sekarang, termasuk mengangkat buku dan berbagai barang berat, dan kertas dari kantor pusat ke Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, dan pekerjaan-pekerjaan yang tidak berkaitan dengan ‘’pengetikan’’. Namanya saja bagian ‘’umum’’, jadi pekerjaannya serabutan, selain sebagai ‘’juru tik’’, ya juga ‘’kuli angkut’’.
Ini berbeda dengan mereka yang masuk ke Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi melalui jalur ‘’khusus’’ (KKN), tentu mereka ditempatkan di ‘’bagian basah’’, pasti dilibatkan dalam berbagai ‘’proyek’’, karena pasti mereka dapat ‘’insentif’’ uang proyek, baik dalam hitungan uang lembur maupun dana proyek lainnya, sehingga tentu saja, mereka walau gajinya seperti juga saya, sekitar Rp 18.000 sampai Rp 30.000 per bulan, tetap saja mereka hidup lebih makmur dan bahkan bisa dapat ‘’motor’’ dinas, baik dari anggaran Negara maupun anggaran khusus proyek.
Sebagai karyawan di Bagian Umum, tentu saja saya juga kadang main ke bagian secretariat Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, yang sekretarisnya dijabat Bapak Sembiring. Dari berbagai surat dan memo, karena saya kerap mendapat tugas ‘’memfoto copy’’ surat-surat itu, karena di bagian ‘’penggandaan’’ selain bertugas menggandakan buku-buku, pengetikan surat, juga tugasnya memfoto kopi berbagai surat dari berbagai Direktorat. Nah, dari berbagai memo itu, ternyata banyak sekali ‘’para pejabat’’, mulai dari Jenderal sampai pejabat tinggi sipil sampai Menteri yang minta anaknya ‘’supaya diterima’’ di berbagai Perguruan Tinggi Negeri, terutama di berbagai Universitas Pavorit seperti Universitas Indonesia, Institute Pertanian Bogor, Institute Teknologi Bandung dan Universitas Gadjah Mada. Saya tidak tahu , apakah Bapak Doddy Tisna Adidjaja mengabulkan permintaan itu.
Atas dasar itulah, saya yang selama bekerja di Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi juga ‘’nyambi’’ kuliah malamnya di Universitas Nasional, yang kampusnya ketika itu masih di Jalan Dipenogoro, dan Dekannya dipegang Arbi Sanit dan Rektornya masih dijabat Prof.Dr.Taqdir Alisyahbana memutuskan untuk ‘’keluarga’’ dari Pegawai Negeri, untuk sekolah ke luar negeri. Karena, saya sudah memperhitungkan, saya sebagai pegawai rendahan ‘’ngak’’ mungkin bisa berkesempatan seperti banyak anak pejabat itu, yang banyak diantara mereka mendapatkan beasiswa ke luar negeri, seperti ‘’jatah’’ para dosen di Perguruan Tinggi negeri. Memang, secara resmi, beasiswa dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan diprioritaskan bagi para Dosen, atau ‘’anak pejabat’’ yang melalui jalur ‘’calon dosen’’.
Berbekal ‘’tiket’’ yang dibelikan ayah saya, karena baru saja menjual tanah dan rumahnya yang ada di ‘’Kariangau, Balikpapan’’, walau Tanah dan Rumah itu dijual tergolong murah, tapi Ayahku berbaik hati ‘’membekali’’ tiket dan uang saku sekadarnya, selain saya dibuatkan ‘’surat jaminan memiliki uang’’ yang ayahku peroleh dari meminjam dari beberapa koleganya, sehingga ketika saya sudah dapat visa dan berangkat ke AS, uang itu kemudian dikembalikan ke ‘’pemiliknya’’.
Setelah saya tiba di Fresno, saya langsung dijemput ‘’Ayah dan Ibu’’ ‘’angkat’’ (foste parent), istilah yang digunakan mereka yang menampung para pelajar asing dirumahnya dengan membayar, layaknya kita membayar sewa kos di Indonesia. Bob dan Dee, begitu panggilan Ayah dan Ibu angkat itu sudah tiba di bandara Fresno. Saya sendiri tiba di Bandara Fresno, setelah menggunakan Jepan Airlines, dengan rute Jakarta – Tokyo – San Francisco. Lalu dari San Francisco saya naik United Airlines menuju Fresno. Jemputan itu memang dikoordinir lembaga Bahasa Inggris International English Institite di Fresno. Saya memang harus mengikuti kursus Bahasa Inggris terlebih dahulu, sebelum bisa kuliah di perguruan tinggi, karena saya harus melewati tes TOEFL dengan nilai minimal 500. Enam bulan kemudian saya diterima di California State University, setelah lulus tes TOEFL mengambil jurusan Ekonomi.
Satu bulan, setelah saya ‘’kursus’’ saya lalu keliling kota Fresno mencari pekerjaan, yang sebenarnya tidak dibenarkan , mengingat visa saya adalah visa F1, khusus belajar, ngak boleh ‘’nyambi’’ kerja. Namun, kalau saya ngak dapat kerjaan, tentu saja saya tidak bisa melanjutkan sekolah dan bisa hidup layak selama di Fresno. Sehingga , berkat informasi, rekan pelajar Indonesia yang lebih dahulu bekerja di restaurant masakan Cina ‘’King’’, maka saya bisa diterima menjadi juru ‘’cuci’’ piring. Sedangkan Kardi, sendiri, seorang keturunan ‘’tionghoa’’ yang dulu tinggal di Jalan Pembangunan, Sawah Besar, Jakarta Barat, telah bekerja di bagian ‘’pelayanan’’ tamu. Ketika itu, saya dibayar US$ 3 per jamnya. Walau, terlihat kecil, namun kami walau di bagian ‘’cuci’’ piring, kebagian tips juga. Karena, usai bekerja, tips yang berhasil dikumpulkan di bagian ‘’pelayanan’’ dibagi ke seluruh rekan lain. Kecuali pemilik restoran.
Itulah sebabnya, setelah bekerja tiga bulan, saya sudah mampu membeli mobil mini ‘’dodge colt’’ bekas, tapi masih 90% baru, seharga US$ 2.900. Padahal, satu bulan sebelumnya saya sudah membeli mobil ‘’stasion wagon’’ besar merk GM s eharga US$ 400 dolar. Memang, kendaraan di AS ketika itu, bahkan sampai kini harganya jauh lebih murah dibandingkan kalau dibeli di Indonesia. Apalagi, kurs rupiah ketika itu masih sekitar Rp 400 per satu dolarnya.
Setelah saya membeli ‘’mobil’’ baru, saya putuskan hibahkan ‘’mobil’’ stasiun wagon ini, terutama guna mengangkut ‘’ayam’’ sembelihan yang halal dari kota Sacramento, ibukota California menuju Masjid Fresno, yang letaknya di seberang kampus California State University, Fresno. Dulu, inilah satu-satunya Masjid yang sebesar ‘’Musholla’’ di Indonesia, yang digunakan untuk Shalat lima waktu dan sholat ‘’Jumat’’. Masjid ini, katanya, sumbangan dari Muammar Khaddafi dari Libya.
Karena pertimbangan dekat Masjid inilah, setelah tiga bulan, akhirnya saya memutuskan tinggal di Apartemen, persis bersebelahan dengan Masjid Fresno, selain bisa jalan kaki kuliah di California State University.
Ketika itu, saya tiba di Fresno, sekitar awal Februari 1982. Ketika saya kursus bahasa inggris di International English Institute, saya setengah kaget, karena sebagian besar muridnya adalah para siswa yang berasal dari Malaysia. Mereka sebagian besar adalah siswa bantuan beasiswa ‘’Mara’’, lembaga khusus di Malaysia yang mengirim para mahasiswa, terutama keturunan ‘’melayu’’ ke berbagai penjuru dunia.
Konon, pada tahun-tahun itu, para mahasiswa Malaysia sudah mulai mendominasi, dan merupakan mahasiswa asing paling banyak jumlahnya, mulai ‘’menggeser’’ mahasiswa asal Iran, yang ketika Rezim Reza Pahlevi mendominasi sekolah-sekolah di Amerika Serikat. Tidak heran, selain didonominasi para mahasiswa dari Negara-negara Arab, mahasiswa lain yang mendominasi Masjid Fresno adalah mahasiswa ‘’melayu’’ asal Malaysia. Mahasiswa asal Indonesia sendiri di Fresno sebenarnya cukup banyak, namun sebagian besar keturunan Tionghoa yang aktif di ‘’gereja’’, itulah sebabnya, rekan saya, mahasiswa keturunan Tionghoa asal Bandung, Aan Supriatna aktif dengan rekan-rekan mahasiswa lainnya di Fresno dalam ‘’pengajian’’ di gereja yang dipimpin Pujiadi. Pujiadi inilah yang mengorganisir rekan-rekan mahasiswa Indonesia, khususnya keturunan Tionghoa ini aktif di Gereja atau acara ‘’kebaktian’’ lainnya. Aku sendiri, karena mahasiswa Muslim asal Indonesia tidak banyak , terpaksa acara pengajian dan Sholat banyak bergaul dengan para mahasiwa asal Malaysia, sehingga dua tahun kuliah di Amerika Serikat, bukannya lancer berbahasa Inggris, malah fasih berbahasa ‘’Melayu’’ aksen Malaysia.
Setelah hampir dua tahun di California, saya memutuskan kembali ke Indonesia, mengingat, membayar kuliah bagi mahasiswa asing cukup mahal, sehingga, walaupun saya sudah bekerja di ‘’Restoran Cina’’ tetap tidak mencukupi, apalagi kalau saya mengambil 18 sampai 21 SKS, tentu saja bayarannya semakin mahal, belum lagi tuntutan membeli buku, dan biaya sewa apartemen dan kebutuhan lain.
Sebelum kembali ke Jakarta, saya sebenarnya ingin memberikan ‘’pekerjaan saya itu’’ kepada Omar Endin, teman satu apartemen untuk bekerja di ‘’King’’ Restoran. Omar memang dating belakangan, setelah saya lebih satu tahun di Fresno, b aru Omar dating dan jadi satu Apartemen dengan saya. Saya pun pernah menjemput Ayah Omar, Bapak Kusmadi Amin Endin, mantan pejabat Pertamina, yang bersama Isterinya menjenguk Omar di Fresno.
Kalau, kita kembali ke masalah kerja di King Restoran, memang di Fresno, solidaritas sesame masih masih berpengaruh, sehingga saya ‘’diberi saran’’ oleh Kardi, kalau saya diwawancara, bilang saja saya juga keturunan Tionghoa di Indonesia.
‘’Are you Chinese,’’ Tanya pemilik Restoran King itu, suatu ketika saya awal di wawancara. ‘’Yes, I am Chinese, but I has already grown in seven generation in Indonesia, so I can not speak Chinese anymore. I only speak Malay and English,’’ jawab ku kepadanya. ‘’Ok, you can start your work tomorrow,’’ tambah pemilik restoran itu lagi.
Nah, ketika Omar menanyakan apakah dia bisa menggantikan saya. Saya bilang, kamu tidak bisa berbohong. Kalau saya bisa, kulit saya kuning, seperti kebanyakan orang Tionghoa di Indonesia, karena saya adalah keturunan ‘’Dayak Paser’’ yang umumnya kuning langsat. Sedangkan Omar, berkulit cokelat, seperti kebanyakan orang ‘’Jawa’’ lannya, walau pun dia keturunan Jawa Barat dan Sumatera.
· Wartawan Freelance, Dosen Komunikasi (Jurnalistik) Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Hidayatullah, Depok.
Perjalanan yang belum selesai (6)
http://www.allvoices.com/contributed-news/4772925-perjalanan-yang-belum-selesai-6
Pulang dari AS melamar jadi Korektor Majalah Tempo dan Tabloid Zaman. Pindah ke LKBN Antara menjadi Reporter. Mengenal Mafia Peradilan dan ‘’amplop’’ di pengadilan dan kota Jakarta Timur.
Oleh: Muhammad Jusuf *
Sebelum memutuskan kembali ke Jakarta, akhir tahun 1983, saya sudah memborong buku-buku, terutama mengenai mata kuliah ekonomi seperti yang tertuang di dalam kurikulum, agar walau kuliah tidak selesai S1, tetapi materinya bias dipelajari di kampung sendiri. Agar tidak dibebani biaya barang yang mahal, maka buku-buku saya taruh di dalam kotak-kotak, sehingga bias dikapalkan melalui pengiriman kapal laut, walau saya sudah sampai, buku-buku itu baru sampai beberapa pecan kemudian, walau sudah dalam keaddan tercecer, karena tukang pos kita masih membawa pengiriman itu menggunakan sepeda, jadi buku-bukunya diperoleh dalam keadaan tercecer.
Aku tiba di Bandara Halim Perdana Kusuma, karena Bandara Internasional ketika itu sudah pindah dari Bandara Kemayoran ke Bandara Halim Perdana Kusuma. Bandara Soekarno-Hatta ketika itu belum selesai dan baru direncanakan untuk dibangun. Di dalam perjalanan pulang, karena barang-barang yang aku bawa banyak, terutama buku-buku bekas, terpaksa, ada sebagian barang, sesuai dengan jatah aku langsung saja taruh lebel ke bandara Halim Perdana Kusuma. Sedangkan barang-barang lain, aku taruh untuk label dan destinasi ke Tokyo, Jepang.
Saya memang sudah merencanakan untuk tidak langsung pulang ke Jakarta, namun singgah ke Tokyo, dan nginap di Tokyo semalam. Ini dimungkinkan, karena bila kita menggunakan Jepan Air Lines (JAL) bila dalam destination kita ke kota mana pun namun singgah di Tokyo, kita bias memperoleh Hotel gratis maksimal 3 hari. Jadi, saya memanfaatkan jatah nginap hotel gratis ini di Hotel Nikko di Bandara Narita, selain memanfaatkan untuk melihat-lihat dulu kota Tokyo, juga menitip barang-barang orang-orang Jepang yang baru Pulang dari Los Angeles ke Tokyo. Kebetulan banyak pengusaha Jepang yang hanya menenteng tas saja, tidak banyak yang membawa bagasi. Ketika itu memang kita masih memungkinkan, karena belum banyak isu teroris, dan penyelundupan narkoba, sehingga mereka masih ‘’bersedia’’ dititipin jatah bagasinya.
Setelah beberapa bulan di Jakarta, saya melihat iklan di Majalah Tempo, mereka ketika itu memasang iklan membutuhkan tenaga wartawan, editor dan korektor. Ketika itu, masih system lama, mesik tik manual, belum ada computer, sehingga mereka masih membutuhkan korektor yang dikoreksi juga secara manual. Biasanya naskah dari Redaktur diberikan kepada seorang korektor dulu, sebelum di edit lagi seorang copy editor, dan setelah itu baru ke beri ke bagian pra cetak, sebelum diterbitkan.
Saya, tentu saja melamar menjadi korektor, dengan alas an juga juga berpengalaman menjadi korektor ketika kerja di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, ketika bagian Penggandaan di Bagian Umum menerbitkan buku, dan saya mencoba mengkoreksi beberapa kata dan kalimat yang salah ketik, sebelum dikembalikan ke editor dan dikirim ulang ke bagian penggandaan sebelum di cetak.
Ketika itu saya mengikuti tes Bahasa Inggris dan proses wawancara. Kebetulan ketika itu saya calon Korektor dan saudara Eddy Soetriono calon copy editor. Tes sendiri berlangsung di Lembaga Indonesia-Amerika (LIA) Pramuka. Beberapa hari kemudian menjalani tes kesehatan yang dilakukan langsung Poliklinik Tempo yang ada di Proyek Senen, Jakarta Pusat, bersebelahan dengan Kantor Redaksi Majalah Tempo. Tes kesehatan dilakukan langsung oleh Dr.Kartono Muhammad, adik Pemimpin Redaksi Majalah Tempo ketika itu, Goenawan Muhammad.
Saya, beberapa hari kemudian dinyatakan lulus, dan bekerja menjadi korektor tempo. Biasa, seorang korektor pada saat dead line, kadang pulang pagi. Tidak heran, kadang saya tertidur beberapa detik di jalan ketika sedang berada di atas ‘’Vespa’’, dan suatu kali pernah hampir ‘’nyerempet’’ orang di Jalan, karena sempat beberapa detik ketiduran di atas sepeda motor.
Ketika di Tempo, saya bersama Aston Pasaribu dan rekan-rekan korektor lainnya dipimpin Mas Prinka, almarhum, ketika itu jadi Bos Design Grafis dan Tata Letak. Bambang Harimurti ketika itu baru beberapa tahun jadi Reporter Tempo. Begitu juga Zaim Uchrowi, dan Fotographer Rini PWI. Aku sendiri sempat kaget, ketika bosku ‘’Slamet Jabarudi’’ memperkenalkan ‘’Aidit’’ Syubah Asa. Memang, saya kaget, karena saya melihat dialah pemain film Peristiwa ‘’G 30 S PKI’’ dimana actor ‘’Aidit’’ dimainkan oleh Radaktur senior Syubah Asa. Saya sendiri memang dua kali nonton film ini, karena penasaran, apa betul yang di film merupakan kejadian sebenarnya, atau banyak di’’bumbui’’.
Ketika itu, saya ternyata merangkap tugas , bukan hanya sebagai korektor Tempo, tetapi juga Majalah Zaman, yang ketika itu diawaki ‘’Putu Widjaja” , Ibu Kun, dan ‘’Danarto’’. Majalah Zaman yang berbentuk tabloid yang banyak berisi tentang cerita pendek, puisi dan kisah dan cerita budaya itu memang tidak berumur panjang. Beda dengan Majalah Tempo, yang terus terbit, bahkan pindah ke gedung megah di kawasan Rasuna Said, beberapa tahun kemudian.
Saya sendiri, tidak menikmati Gedung Tempo yang baru di Jalan Rasuna Said. Aku, terpaksa pindah ke LKBN Antara, karena disana ada iklan membuka lowongan reporter yang hanya bersyaratkan minimal ijasah SMA plus, artinya bisa ikut melamar menjadi reporter bila hanya lulusan SMA, tapi bisa berbahasa inggris. Aku sendiri ketika itu, ijasah sarjana muda saja ngak punya. Karena, ketika meneruskan sekolah ke Amerika Serikat, aku masih di tingkat III Universitas Nasional. Jadi, hanya transfer kredit. Dan ketika pulang, pun kuliah hanya singkat, belum sempat menamatkan S1.
Saya sudah menduka, ketika itu peluang jadi Reporter Tempo cukup berat. Umumnya mereka bisa menjadi reporter kalau sudah S1, dan minimal tingkat akhir yang sedang membuat skripsi. Jadi, karena peluangku naik pangkat dari Korektor menjadi Reporter berat kalau terus di Tempo, maka ketika ada lowongan di LKBN Antara, aku masuk dan melamar.
Ternyata setelah melalui proses tes dan wawancara, kami diterima. Kami merupakan 13 orang yang tergabung dalam ‘’Susdape’’ angkata IV, sebagian memang bergelar sarjana, kecuali aku dan Johny Tarigan. Lainnya, seperti Dadut Priambodo, Romulus Sihombing, Susi , Retno, Bambang, Kaswir, Musfarullah sudah lulus S1. Setelah mengikuti training teori mengenai Jurnalistik selama 6 bulan di LKBN Antara, kami mulai diterjunkan ke lapangan. Aku pertama kali ditugaskan meliput berita di sekitar Pengadilan dan Kota Jakarta Timur.
Meliput masalah-masalah kota dan berbagai siding di pengadilan di Jakarta Timur sebenarnya menarik. Apalagi ketika itu di pengadilan inilah aku mulai mengenal yang namanya mafia peradilan. Dimana para penyidik Polisi dan Jaksa serta Hakim bisa ‘’memperjaulbeli’&rsqu
Memang akhirnya , penjudi kelas kakap yang tertangkap basah tengah berjain judi di kawasan Sawah Besar , Jakarta Barat ini akhirnya divonis enam bulan dalam masa percobaan satu tahun. Artinya, dia tidak dihukum badan, dan barang bukti berupa uang seluruhnya dikembalikan, dengan ‘’separuh’’ diantaranya dia bagikan kembali ke para penegak hokum dan sebagian ‘’wartawan bodrek’’ itu. Bayangkan saja, wartawan bodrek, yang ngak punyak media itu kehidupannya yang berbisnis di sekitar pengadilan sudah punya mobil. Sedangkan wartawan Resmi, hanya punya sepeda motor. Itu pun sepeda motor ‘’dinas’’ atau cicilan dari kantor.
‘’Wartawan bodrek’’ ini ketika itu juga banyak berkeliaran di wilayah Jakarta Timur. Kerjanya hanya ‘’memeras’’ Lurah dan Para Camat yang mereka duga ‘’koruptor’’. Sehingga, banyak Lurah dan Camat kaya ketika itu diperas ‘’wartawan bodrek’’. Memang, banyak juga wartawan resmi, yang walaupun tidak ‘’memeras’’, namun kalau berkunjung ke para Camat dan Lurah di Jakarta Timur ‘’diberi upeti’’ ‘’amplop’’, katanya untuk uang bensin dan uang makan, yang kadang jumlahnya tergolong ‘’gede’’. Biasanya, camat dan lurah yang ‘’murah’’ ‘’sedekah’’ adalah Camat dan Lurah kaya. Ketika itu bahkan banyak Lurah yang punya Mobil lebih dari satu. Apalagi para Camatnya, sehingga tidak heran, kalau Camat, Lurah, apalagi Walikotanya, jadi ‘’sapi perah’’ Partai Politik tertentu untuk sebagai ‘’penyandang dana.
· Wartawan Freelance dan Dosen Komunikasi (Jurnalistik) Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Hidayatullah.
Perjalanan yang belum selesai (7)
http://www.allvoices.com/contributed-news/4778988-perjalanan-yang-belum-selesai-7
Pindah Pos sekaligus di Departeman Luar Negeri, Dalam Negeri dan Petambangan dan Energi. Pos di Depdagri bisa keliling Indonesia, pos di ESDM bisa keliling dunia. Batal umroh gratis, karena kekurangan dana membeli tiket, padahal sudah ‘’disangui’’ Direktur PT Tambang Timah Kuntoro Mangkusubroto dan Direktur Keuangan Erry Riyana Hardjapamekas. Aburizal Bakrie dan Arifin Panigoro, salah satu pengusaha ‘’pribumi’’ yang selalu dibawa Menteri Ginandjar Kartasasmita kalau dia melakukan kunjungan kerja ke lokasi tambang. Ketemu ‘’Bob Hasan’’ di Wina, Austria.
Oleh : Muhammad Jusuf*
Setelah sekitar enam bulan mendapat pos peliputan di Pengadilan dan wilayah kota Jakarta Timur, saya mendapat tugas meliput di Departemen Luar Negeri, Dalam Negeri, merangkap pos di Departemen Pertambangan dan Energi. Ketika itu Menteri Dalam Negerinya Soepardjo Roestam, Menteri Luar Negerinya Mochtar Kusumaatmadja, dan Menteri Pertambangan dan Energi Prof.Dr.Subroto.
Untuknya Gedung dan Press Room ketiga Departemen itu tidak jauh dari Kantor LKBN Antara di Wisma Antara, Jalan Merdeka Selatan No.17. Di samping Wisma Antara, kantor Departemen Pertambangan dan Energi, yang kini berganti nama menjadi Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), sehingga kalau ada acara dan pantauan pos, tinggal jalan kaki saya ke sebelah.
Pos di ESDM memang ketika itu cukup penting berita-beritanya, apalagi Indonesia ketika itu masih merupakan anggota Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC), dan sebagian besar, bahkan bisa mencapai 70% devisa Negara berasal dari ekspor Minyak dan Gas Bumi (Migas). Tidak heran, ketika itu Prof.Dr.Subroto kerap menjadi incaran dan kejaran wartawan, bukan saja wartawan local, tetapi juga banyak wartawan asing, seperti wartawan Kantor Berita Reuters yang punya pos tetap di ESDM Muchlis Ali sampai kini. Markus Duan Allo sendiri, wartawan KOMPAS lama mengepos di ESDM, bahkan dia sendiri, termasuk saya sebagai Reporter Antara, kerap dikirim kantornya meliput berbagai konferensi mengenai Energi di luar negeri, termasuk siding-sidang OPEC, baik di markas besar OPEC di Wina, Austria, dan Negara lain, termasuk di Bali, ketika Indonesia menjadi tuan rumah KTT OPEC.
Sedangkan Mochtar Kusumaatmadja sendiri sebagai Menteri Luar Negeri selalu mengadakan pertemuan rutin di kantornya dengan para wartawan. Biasanya Jumpa pers rutin itu dilakukan di Deplu setiap hari Jumat, usai Shalat Jumat. Kadang, hari lain, kalau Bapak Mochtar Kusumaatmadja ada acara lain. Namun, kami wartawan yang ‘’mengepos’’ di Departemen Luar Negeri biasanya selalu di ‘’atur’’ Humasnya, ke Bandara, bila Mochar Kusumaatmadja baru tiba dari suatu acara di luar negeri, sehingga dia melakukan Jumpa pers di Vip room Bandara Soekarno-Hatta, dulu namanya Bandara Cengkareng.
Diantara keiga Departemen ini, yang cukup sibuk adalah Departemen Dalam Negeri (Depdagri). Banyak sekali acara dan kunjungan Soepardjo Roestam ke daerah-daerah yang harus kita ikuti. Berbeda dengan mereka yang mengepos di Departemen Luar Negeri , biasanya Menteri Dalam Negeri dalam kunjungannya ke berbagai daerah selalu membawa wartawan. Juga kalau ada acara di salah satu Dirjennya. Satu hal yang ketika itu berita-berita Departemen Dalam Negeri cukup produktif adalah, ketika itu Kepala Biro Humas Departemen Dalam Negeri Faisal Tamin, juga bertindak sebagai Jurubicara Departemen, sehingga banyak sekali berita-berita seputar Politik Dalam negeri yang terlontar dari mulut ‘’Bapak’’ Faisal Tamin.
Boleh di kata, setiap kunjungan Menteri Dalam Negeri, salah satu Dirjen, bahkan kadang ada undangan Gubernur di daerah kami meliput langsung ke daerah, apalagi pada masa itu, Kantor Berita Antara masih menjadi andalan media cetak dan radio di dalam negeri. Tidak heran, bila saya pernah meliput di hamper seluruh propinsi di Indonesia, mulai dari Banda Aceh sampai Jayapura di Papua, bahkan pernah ikut kunjungan Soepardjo Rustam meninjau propinsi ‘’kita’’ ketika itu ke Dilli dan kota-kota di sekitarnya di Timor Timur
Setiap Pemilu pun para wartawan di Departemen Dalam negeri di bagi dalam beberapa zona, untuk pemantauan. Saya ketika itu, ikut memantau pemilu tahun 1987 ke kawasan Tapal Kuda di Jawa Timur yang ketika itu cukup surprise, karena Partai Persatuan Pembangunan cukup banyak pendukungnya di kawasan ini, walau secara nasional Golkar unggul mayoritas, meninggalkan PPP dan Partai Demokrasi Indonesia.
Berbeda dengan ‘’ngepos’’ di Departemen Dalam Negeri dan Departemen ESDM, ‘’Ngepos di Departemen Luar Negeri, walaupun Menterinya kerap ke luar negeri, namun wartawannya ‘’sama sekali’’ tidak pernah ‘’diundang’’ meliput ke luar negeri. Cukup di Press Room bandara, atau Press Room Departemen Luar Negeri. Mungkin satu-satunya yang pernah, para wartawan di undang keluar negeri adalah ketika ‘’Gedung KBRI” yang baru di Singapura di resmikan. Itu pun yang berangkat adalah Saudara rekan saya satu angkatan di Susdape IV, Dadut Priambodo, yang ketika pertama kali menjadi reporter Antara ditugaskan ‘’mengepos’’ di Deplu. Saya ketika itu ‘’ngepos’’ di Jakarta Timur.
Saya beruntung ditugaskan Kepala Biro Koordinator Reporter LKBN Antara ketika itu Alwi Shahab yang menggantikan Bapak Soegianto, sehingga saya juga di poskan di Departemen ESDM, karena dari pos inilah saya berpengalaman meliput sampai ke manca Negara, baik Konperensi OPEC di Wina, Austria, sampai konferensi mengenai Energi di Spanyol, Singapura, Jepang dan beberapa Negara lain. Memang, ngepos di Departemen Luar Negeri, bukan berarti saya tidak pernah ditugaskan meliput masalah-masalah luar negeri di luar negeri. Seperti sekitar tahun 1986’an, ketika Pemerintah Oman mengundang para wartawan dari segala penjuru dunia, termasuk dua wartawan di Indonesia, saya termasuk yang ditugaskan Antara meliput Konferensi Dewan Kerjasama Teluk (GCC) yang dilakukan di Ibukota Oman, Muscat.
Sebenarnya, pemerintah Oman ketika itu mengundang selain wartawan Antara, juga wartawan senior Anie Berthasimamora dari Sinar Harapan. Namun, ketika itu Anie Berthasimamora tengah berhalangan. Mungkin, dia tengah persiapan menghadapi perayaan Natal, karena ketika itu jadwal konferensi GCC mendekati hari-hari perayaan Natal.
Ada salah satu hal menarik ketika kami diundang Oman ini. Oman adalah salah satu Negara di Timur Tengah yang cukup kaya, dan merupakan salah satu Negara di Timur Tengah yang pernah saya singgahi untuk meliput. Berbeda dengan kota Dubai, saya hanya transit saja ke kota ini, sebelum melanjutkan perjalanan ke Eropa misalnya (ke Belanda atau Negara lain seperti Jerman, Austria dan Hongaria).
Di dalam mengundang para wartawan ini, pemerintah Oman sadar betul akan pentingnya Public Relations, sehingga untuk Negara-negara di Asia mereka menggunakan jasa konsultan dari Singapura untuk meliput jalannya siding. Kami para wartawan tentu saja dimanjakan pemerintah Oman dalam peliputan, kami disediakan hotel mewah, seperti Al-Bhustan hotel, kendaraan ‘’Mercedes Benz’’ untuk putar-putar sekitar kota Oman, selain bis untuk mengunjungi beberapa tempat wisata di Oman.
Namun, cita-cita saya, ketika sambil mengunjungi Oman adalah, saya tidak jadi Umroh Gratis ke Mekkah. Padahal, sebelum berangkat ke Oman, saya sudah menyiapkan ‘’baju ihram’’ putih, peninggalan almarhum mertua Mayor Dimyati saya yang meninggal ketika naik haji tahun 1982 lalu. Lagi pula, saya pun mendapat ‘’visa gratis’’ dari Kedubes Arab Saudi di Jakarta. Belum lagi, Kepala Biro LKBN Antara di Jeddah, ketika itu, ‘’menawarkan’’ services ‘’gratis’’ dari Jeddah ke Mekkah pulang pergi. Saya ketika itu memang ‘’belum panggilan’’, karena ‘’uang saya’’ ternyata kurang US$ 100 dolar untuk tambahan membeli tiket dari Muscat – Jeddah bolak-balik, karena Tiket dari Muscat – Bangkok – Jakarta sudah disediakan pemerintah Oman.
Padahal, sebelum berangkat ke Oman, saya sudah lapor ke Direktur Utama PT Tambang Timah Kuntoro Mangkusubroto dan Direktur Keuangannya Erry Riyana Hardjapamekas, kalau saya, selain meliput ke Oman, juga akan Umroh. Karena niat baik saya itu, padahal keduanya sudah ‘’memberi sangu’’ Rp 500.000 rupiah. Namun, saya salah perhitungan, uang SPJ yang telah diberikan LKBN Antara dan ‘’bantuan Umroh’’ dari Bapak Kuntoro dan Bapak Erry Riyana itu sudah telanjur ‘’kepakai’’ membeli oleh-oleh di pasar tradisional di Muscat untuk membeli topi haji, kurma dan lain-lain. Padahal, harga-harga oleh-oleh di Muscat sangat mahal, apalagi nilai mata uang rial Oman ketika itu dua kali lipat dari dolar AS, sehingga uang dikeluarkan ‘’tanpa terasa’’ nyaris habis, sehingga uang untuk tambahan tiket ke Jeddah kurang. Kata orang sih, saya belum rezeki ‘’dipanggil’’ untuk Umroh. Mungkin juga hati saya belum ‘’terlalu’’ bersih, karena di hati kecil, sebelum kembali ke Jakarta, dan singgah di Bangkok, banyak teman wartawan di Jakarta agar saya mencari pengalaman dengan menonton berbagai pertunjukan yang ‘’berbau porno’’ selama di Bangkok.
Ada hal yang menarik ketika saya dalam perjalanan dari Muscat ke Jakarta via Bangkok. Dalam perjalanan saya pulang saya satu pesawat dengan sebagian besar warga Negara Oman yang tengah ingin tamasya ke Bangkok. ‘’Anda ingin kemana,’’ Tanya saya ke salah satu penumpang, memakai surban dan pakaian khas ‘’Arab’’. ‘’Saya mau pelesiran ke Bangkok,’’ kata penumpang ini. “Kenapa tidak singgah juga ke Jakarta setelah dari Bangkok,’’ Tanya saya, penasaran. ‘’Di Indonesia, dan di Jakarta ngak banyak ceweknya,’’ kata salah seorang penumpang tadi. Maksudnya, tidak banyak ‘’wanita penghibur’’. Karena, saya takut ‘’berdosa’’ kasih tahu kalau di kota-kota di Indonesia juga banyak ‘’wanita penghibur’’, saya hanya mengangguk saja ketika dia menjawab demikian.
Ketika kami turun di Bangkok, ternyata selama di Ibukota Thailand ini, kami satu hotel, di tengah kota Bangkok. Ketika tiba, saya pun lantas Chek in, dan sore harinya jalan-jalan mengelilingi kota di Bangkok, termasuk beberapa tempat ‘’penari berbau porno’’ yang menjadi daya tarik umumnya para pelancong dari mancanegara mengapa mereka memilih Thailand sebagai tempat persinggahan, selain mereka memiliki banyak ‘’wanita penghibur’’.
Benar saja, ketika sekitar pukul 22.00 malam saya kembali ke Hotel, beberapa rekan warga Oman yang satu pesawat tadi, kembali ke kamar hotel mereka sudah ‘’menggandeng’’ satu-satu para wanita ‘’penghibur’’ local. Mereka sudah tidak lagi menggunakan pakaian khas Arab, namun umumnya mereka sudah mengenakan celana ‘’Jeans’’. Konon, diantara para turis dari Arab itu, bukan saja bujangan, tetapi banyak diantara mereka bahkan sudah berkeluarga. ‘’Mereka’’ rupanya sengaja tidak membawa para isteri dan anak mereka ke Bangkok, agar ‘’kenakalan’’ mereka tidak ketahuan para isteri mereka.
Kunjungi Tembagapura
Enam bulan menjelang masa sebagai Menteri Pertambangan dan Energi, Prof.Dr.Subroto yang selama ini banyak menghadiri siding OPEC dn konferensi energi di luar negeri, sehingga belum sempat mengunjungi beberapa lokasi pertambangan di dalam negeri, sehingga dia memutuskan untuk melakukan kunjungan kerja mengunjungi beberapa lokasi tambang, antara lain mengunjungi tambang tembaga dan emas milik Freeport McMorant PT Freeport Indonesia di Tembagapura, di Papua, kemudian mengunjungi tambang nikel milik PT Inco di Pomalaa di Sulawesi Selatan, melihat tambang emas milik mantan anggota DPR Yusuk Merukh PT Lusang Mining di Lebong Tandai di Bengkulu, dank e Tanjung Enim melihat lokasi tambang batubara yang dieksplorasi dan dieksploitasi PT Tambang Batubaa Bukit ‘Asam (PTBA).
Ketika kami mengunjungi PT Lusang Mining di Bengkulu, kami dari Jakarta ke Palembang memang menggunakan pesawat. Namun dari Palembang ke Lebong Tandai, di Bengkulu, kami menggunakan kereta api, jadi kereta pengangkutan batubara yang gerbongnya diganti dengan ‘’gerbong’’ penumpang.
Satu tahun berikutnya, Presiden Soeharto ketika mengumumkan komposisi anggota kabinetnya, Menteri Subroto yang sebelumnya beberapa kali menjadi Menteri di pos lain oleh Presiden Soeharto, kali ini, Soeharto menunjuk Prof.Dr.Ginandjar Kartasasmita menjadi Menteri Pertambangan dan Energi menggantikan Prof.Dr.Subroto. Subroto beberapa saat kemudian menduduki jabatan sebagai President OPEC.
Departeman Pertambangan dan Energi yang dipegang Bapak Ginandjar, yang di dalam cabinet sebelumnya menjabat sebagai Menteri Muda Pemberdayaan Penggunaan Produksi Dalam Negeri itu terasa ‘’semakin hidup’’. Selain dia sendiri yang kerap ‘’banyak’’ bicara’’ kepada pers, baik soal-soal minyak dan gas dan OPEC, juga sekitar masalah-masalah pertambangan lainnya. Para Direktur Utama Badan Usaha Milik Negara, yang ketika itu masih di bawah payung Departemen Pertambangan dan Energi, bukan Kementrian BUMN seperti sekarang, juga mengikuti gaya menterinya, yang sangat terbuka kepada para wartawan.
Direktur Utama PT Tambang Timah ketika awal Ginandjar menjadi Menteri dipegang Kuntoro Mangkusubroto menggantikan Sudjatmiko. Dua tahun kemudian, Kuntoro pindah menjadi Direktur PT Tambang Batubara Bukut Asam. Direktur Utama Perusahaan Listrik Negara dipegang Ermansyah Yamin, sedangkan Direktur Utama Pertamina dipegang Abdurahman Ramly, setelah satu tahun kemudian digantikan oleh Bapak Faisal Abda’oe. Konon, Faisal Abda’oe menjadi Dirut Pertamina, karena ‘’titipan’’ President Soeharto, karena ada cerita, Faisal Abda’oe di dalam zaman perjuangan melawan penjajah, ketika di Yogyakarta, adalah ‘’kurir’’ Soeharto.
Di dalam masa Bapak Ginandjar Kartasasmita inilah ‘’saya naik daun’’. Karena, Bapak Handjojo, Pimpinan Umum LKBN Antara, juga teman dekat Bapak Ginandjar Kartasasmita, sehingga bos saya, Bapak Alwi Shahab dan Bapak Sugiarto tetap memutuskan saya tetap pada pos saya semula, dan diminta ‘’menempel’’ terus Bapak Ginandjar. Ini juga diteruskan pada masa kepemimpinan Bapak Parni Hadi, Kepala Biro Koordinator Reportase menggantikan Bapak Soegiarto dan Bapak Alwi Shahab ketika itu.
Tidak heran, bila ada penugasan, baik atas undangan BUMN di Lingkungan Departemen Pertambangan dan Energi, atau penugasan dari kantor LKBN Antara meliput OPEC dan konferensi energy di forum Internasional, dimana Bapak Ginandjar Kartasasmita hadir, saya selalu ditugasi untuk meliputnya.
Ada salah satu semangat yang dimiliki Bapak Ginandjar Kartasmita ketika mempromosikan produksi dalam negeri , ketika diangkat menjadi Menteri ESDM, dia selalu mengikut sertakan beberapa pengusaha ‘’pribumi’’ seperti Aburizal Bakrie, Arifin Panigoro dan Bapak Fadel Muhammad. Kini ketiganya sudah menjadi ‘’orang besar’’. Aburizal Bakrie, yang kini menjabat Ketua Umum Golkar sebelumnya Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat. Arifin Panigoro sendiri perusahaan minyaknya Medco Group telah menjadi perusahaan migas swasta terbesar di Indonesia. Fadel Muhammad Sendiri setelah sebelumnya menjabat sebagai Gubernur Gorontalo, kini menjabat sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan, menggantikan Freddy Numberi, yang kini menjadi Menteri Perhubungan pada cabinet Presiden Susilo Bambang Yudhoyono periode kedua. Itulah sebabnya, ketika kami mengunjungi PT Freeport di Tembagapura, selain dijemput langsung oleh CEO Freeport McMorant dari Amerika Serikat Mr.Moffet di Halim Perdana Kusuma, Ginandjar dalam kunjungan beberapa kali ke Tembagapura selalu membawa dua pengusaha ‘’pribumi’’ ini.
Ketika kami mengikuti kunjungan Menteri Ginandjar dan diikuti Bapak Aburizal Bakrie dan Arifin Panigoro, kami sempat juga mengunjuhngi lembah Baliem, kawasan desa suku asmat di Papua. Kami pun sempat ‘’melihat’’ salju di atas pegunungan di Jayapura, yang masuk lokasi pertambangan di Tembagapura. Entahlah, apakah salju itu masih ada di Tembagapura, karena tentu saja eksploitasi tembaga dan emas tentu saja sudah semakin meluas, sehingga berdampak pada perubahan lingkungan dan suhu.
Pernah suatu ketika, ketika tengah meliput Konferensi Sidang OPEC di Wina, Austria, ketika saya tengah akan mengirim berita ke kantor pos, saya jalan kaki dari Hotel, maklum ketika itu mengirim berita ke Antara belum menggunakan mesin fax atau email seperti sekarang. Ketika itu kami mengirim berita menggunakan telex. Karena, kalau menggunakan operator mahal bayarannya di Austria, terpaksa saya mengirimnya mengetik sendiri. Namun, ketika, akan pulang kembali ke Hotel dari Kantor Pos di Wina, saya ketemu pengusaha nasional dan mantan Menteri Perdagangan Muhammad Hasan, yang dikenal dipanggil ‘’Bob Hasan’’.
Ketika saya jalan, Bob Hasan yang didampingi Sekjen Persatuan Atletik Indonesia itu tengah menikmati alam kota Wina, termasukGereja Tuanya yang indah. ‘’Hei Bapak Bob Hasan, apa kabar,’’ sapa aku. ‘’Kabar baik, Anda dari mana,’’ Tanya Bob Hasan. ‘’Saya reporter Antara, Muhammad Jusuf,’’ kata saya.
‘’Oh , ya, saya kenal baik bos Anda Bapak Handjojo. Ada acara apa di Wina ini,’’ Tanya Bob Hassan. ‘’Saya lagi meliput sidang OPEC,’’ kata saya. ‘’Bapak Bob Hasan sendiri dari mana dan sedang apa,’’ Tanya saya, penasaran. ‘’Saya tengah berkunjung ke beberapa di Skandinavia untuk mencari pabrik kertas,’’ jawab Bob Hasan. Memang, Bob Hasan, ketika itu, selain dikenal sebagai pengusaha di bidang industry perkayuan, juga dikenal tengah merintis industry kertas, seperti Pulp PT Kiani Kertas di Kalimantan Timur, yang kini dimiliki pengusaha Pak Hashim dan Prabowo Subianto. ‘’Ayo kita ke restaurant terdekat, sambil ngobrol-ngobrol,’’ ajak Bob Hasan. ‘’Ok, kata ku’’. Lalu, setibanya di sebuah restaurant ‘’cina’’, kami lebih dari tiga jam mengobrol panjang lebar dengan Bob Hasan.
Setibanya di Hotel, saya ketemu Wartawan Kompas, yang ditugasi meliput sidang OPEC ketika itu, Saudara Chris Kelana. ‘’Dari mana Suf,’’ kata Chris. ‘’Aku dari kirim berita di Kantor Pos. Eh, tadi aku ketemu Bob Hasan dan ditraktir makan,’’ kataku. ‘’Dimana, aku juga pengen ketemu dia,’’ Tanya Chris Kelana penasaran. ‘’Tadi dia ada di tengah kota, dekat Kantor Pos, saya sih sudah kasih tahu hotel kita Marriot ke Bapak Bob Hasan,’’ kataku.
Benar saja, esoknya ketika Konferensi OPEC dibuka dan dimulai, Bob Hasan sudah masuk dalam jajaran barisan tempat duduk delegasi Indonesia, termasuk Direktur Utama Pertamina Faisal Abdaoe, dan para pejabat dan staf ahli lainnya di lingkungan Departemen Pertambangan dan Energi.
Sepulangnya dari Wina inilah, kemudian Chris Kelana ‘’hengkang’’ ke Televisi Rajawali Citra Televisi Indonesia (RCTI). Rupanya, Chris Kelana baru saja dibajak Peter F Gontha untuk menjadi Pemimpin Redaksi Seputar Indonesia di RCTI.
Salah satu kepuasan saya di dalam meliput sidang-sidang OPEC itu adalah, banyak berita-berita saya yang di ‘’kutip’’ Koran utama di tanah air, seperti Sinar Harapan, Berita Buana, Merdeka, Koran Bahasa Inggris ‘’The Indonesian Times” dan ‘’The Indonesian Observer’’ dan banyak Koran daerah lain. Saya memang bekerja di LKBN Antara mulai tahun 1984 sampai tahun 1989, setelah tahun 1990 saya pindah ke Majalah Mingguan ‘Ekonomi’ Prospek milik pengusaha Soetrisno Bachir, yang kini Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) sebagai Kepala Biro Jakarta, atau Koodinator Reportase.
· Wartawan Freelance dan Dosen Komunikasi (Jurnalistik) Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Hidayatullah.
Perjalanan yang belum selesai (8).
http://www.allvoices.com/contributed-news/4792338-perjalanan-yang-belum-selesai-8
Sambil tugas ‘’menyelam minum air’’ dua kali ‘’nengok’’ adik di San Diego. Godaan dua hostes di Madrid, Minum dua gelas kecil coca-cola bayar US$ 5.000. Kalau ‘’pengen’’ kaya, selain “injak’’ para koruptor, juga terima ‘’amplop’’. Ada juga sogokan ke wartawan berupa ‘’perempuan’’ atau ‘’cewe’’.
Oleh: Muhammad Jusuf *
Saya beruntung, baru beberapa bulan di Majalah PROSPEK sudah mendapat tugas meliput perjalanan perdana perusahaan penerbangan milik Huspuss Group, Sempati Air penerbangan perdana Jakarta – Singapura. Undangan ini sebenarnya ditujukan kepada para pemimpin Redaksi Media massa, itulah sebabnya, di dalam kunjungan itu Djafar Assegaf, ketika itu Pemimpin Redaksi Majalah Warta Ekonomi turut serta.
Saya bilang beruntung, karena, inilah satu-satunya ada penugasan seorang wartawan ke luar negeri di majalah baru milik Soetrisno Bachir, mengingat saya setelah itu, tidak ada lagi, karena Majalah ini keburu tutup. Salah satu kabar, mengapa Majalah ini tutup, adalah Bapak Soetrisno Bachir di dalam menanamkan modalnya di industry media ini adalah atas investasi dan dari ‘’kantong pribadi’’ dan tidak ada hubungannya dengan ‘’Ika Muda Group’’ dimana dia dan saudara-saudaranya duduk sebagai anggota Dewan Komisaris dan Direksi. Padahal investasi di Media adalah investasi ‘’jangka panjang’’ , belum tentu sudah dapat iklan dalam waktu singkat.
Dengan dana yang terbatas Soetrisno Bachir mencoba untuk ekspansi di Media, setelah mendirikan Majalah PROSPEK. Yang sebagian besar awak Redaksi dan Non-Redaksi ‘’dibajak’’ dari Majalah Tempo dan eks Majalah Editor yang juga asalnya juga mantan awak Majalah Tempo itu. Soetrisno Bachir yang diwaliki Muchlis Gumilang, sebagai Direktur Utama pengelola Majalah ‘’membajak’’ mereka dengan ‘’gaji besar’’ dan para redakturnya pun memperoleh ‘’mobil dinas sedan’’. Jadi, tentu saja ini adalah salah satu daya tarik mengapa saya, dan Saudara Dadut Priambodo ‘’hengkang’’ dari LKBN Antara ke Majalah Prospek. Padahal, konon, katanya Saudara Dadut Priambodo ini sudah dipersiapkan Saudara Parni Hadi, Kepala Biro Koordinator Reporter LKBN Antara ketika itu untuk menjadi Kepala Biro LKBN Antara, kalau ngak di Melbourne, Australia atau di New York, Amerika Serikat.
Tapi, itu memang sudah suratan takdir dan jalan rezekinya Dadut. Berkat ‘’pesangon’’ dari PROSPEK, Dadut bisa sekolah S2 jurusan Business Administration, sehingga memperoleh gelar MBA, selain S1 bidang hukum yang dia peroleh sebelumnya dari Universitas Indonesia. Setelah satu tahun di PROSPEK, Dadut Priambodo memang malang melintang bekerja di Kantor Pengacara terkenal seperti Kantor Pengacara Gani Djemat di Jalan Diponegoro, sebelum akhirnya dia memutuskan membuka praktek ‘’kepengacaraan sendiri’’, sampai kini.
Pindah ke Media Indonesia
Kebetulan, ketika Majalah PROSPEK tengah genting-gentingnya, bahkan ada kabar mau tutup segera, karena dana yang ada sudah ‘’habis’’, maka saya melihat iklan di Harian Media Indonesia membuka lowongan untuk posisi ‘’Redaktur Internasional’’ untuk menggantikan Praginanto, mantan wartawan senior Tempo yang pernah mewawancarai secara eksklusif Pemimpin Palestina Yaser Arafat sekitar tahun 1980’an, ketika di Indonesia belum banyak media cetak dan elektronik. Praginanto ini juga sebenarnya adalah orang yang mempersiapkan akan kelahiran Majalah Prospek. Namun, belum sempat terbit, dia digantikan oleh Bachtiar Abdullah, mantan Reporter Tempo.
Katanya sih, konon, dia ‘’dikudeta’’ oleh Bachtiar Abdullah cs. Padahal Praginanto ini adalah bekas sahabat karib salah satu ‘’pendukung Bachtiar Abdullah, Bachrul Alam, mantan wartawan RCTI yang kini jadi salah satu wartawan senior di LKBN Antara, ketika sama-sama kuliah di Universitas Indonesia. Praginanto kemudian, setelah sempat ‘’nemplok’’ di Media Indonesia, lalu ke media Jepang, Harian Nikkei edisi bahasa Inggris. Bachtiar Abdullah pernah bilang, Praginanto terlalu lama mempersiapkan majalah PROSPEK, lebih enam bulan dan belum terbit-terbit. ‘’Saya ngak sabar dengan kondisi ini, sehingga saya dan teman-teman menghadap Soetrisno Bachir,’’ kata Bachtiar Abdullah , mantan Reporter Majalah Tempo yang pernah sama saya mangkal di Departemen Pertambangan dan Energi (ESDM) suatu ketika.
Ketika saya mulai bertugas di Media Indonesia, asisten saya sebagai Asisten Redaktur International adalah Herdi SRS, yang kemudian Herdy digantikan oleh Taufiqulhadi. Saya sendiri diberikan ‘’kursi’’, bekas yang digunakan Praginanto, bersebelahan dengan Saudari Debra Yatim, yang ketika itu menjadi Redaktur Aksen, yang mengisi halaman seputar kisah ‘’perempuan’’. Redaktur Eksekutifnya ketika itu Herul Fathony. Saya sendiri sebelum masuk Media Indonesia diseleksi dan diwawancara Sekretaris Redaksi ketika itu Sides Sudyarto, yang sebelumnya wartawan KOMPAS bersama Herul Fathony.
Setelah dua tahun, saya dipindahkan menjadi Koordinator Reportase, di bawah Andy Noya, yang ketika itu menjabat sebagai Asisten Redaktur Executif, dibawah Herul, sebelum saya kembali ditugaskan menjadi Asisten Redaktur Ekonomi, bersama Marcianus Donny yang jadi Redakturnya. Pada posisi Asisten Redaktur Ekonomi ini, Redaktur Exekutifnya dipegang Saudara Bambang Harymurti, yang setelah Tempo dibreidel, dia bersama beberapa mantan awak Tempo, sempat ‘’ditampung’’ Surya Paloh di Media Indonesia, seperti Happy Sulistiady, Moebanu Mura, dan termasuk Fotografer Rini PWI. Namun, ketika Tempo terbit lagi, sebagian dari mantan awak Tempo ini kembali menerbitkan Majalah berita terkemuka di Indonesia, dengan Bambang Harymurti menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Tempo perdana, ketika terbit kembali.
Pernah suatu ketika sebagian besar para redaktur harian Media Indonesia menandatangani petisi memprotes kebijakan Surya Paloh. Hanya satu orang yang ketika itu tidak melaksanakan ‘’tanda tangan’’ yaitu saudara Eddy Ellison. Hasilnya, karena hasil petisi itu tidak digubris, maka sebagian besar para Redaktur ‘’mundur’’ seperti Debra Yatim, Herul Fathony, Bramono, dan para redaktur dan beberapa reporter yang jumlahnya hampir dua puluh orang. Banyak dari mereka pindah ke media lain, walau ada beberapa diantara mereka beberapa tahun kemudian kembali, seperti Herul Fathony. Sedangkan Debra Yatim sendiri sampai kini terus giat menjadi aktivis di LSM yang ‘’memperjuangkan’’ kaum Perempuan. Eddy Ellison sendiri yang tidak menandatangani petisi, diangkat Surya Paloh menjadi Redaktur Eksekutif. Redaktur Eksekutif di Media Indonesia sih de facto seperti layaknya seorang Peimpin Redaksi, hal ini mengingat Pemimpin Redaksi yang ada, Drs Youslisah adalah Pemimpin Redaksi non-aktif. Memang, harian Media Indonesia ini sebelum ‘’dibeli’’ Surya Paloh adalah Media yang didirikan oleh almarhum Drs.Youslisah. Kebetulah Youslisah dan Surya Paloh sama-sama ‘’orang Aceh’’.
Beruntung nengok Adik.
Selama bekerja menjadi Wartawan di Media Indonesia saya cukup beruntung. Karena selama bekerja di sinilah saya bisa dua kali ‘’nengok’’ adik saya Sri Mulyani, yang kebetulan mendapat suami asal Amerika Serikat dan tinggal di San Diego, California, Amerika Serikat.
Pertama , ketika Pertamina mengundang saya , bersama sekitar 60 puluh wartawan yang ‘’ngepos’’ di Pertamina ditugaskan meliput pengapalan gas alam cair dari Indonesia ke Osaka, Jepang. Kita kelompok wartawan meliput di bidang Pertambangan dan Energi, ketika itu Menterinya adalah Prof.Dr.Ginandjar Kartasasmita, dan Direktur Utamanya Faisal Abda’oe dibagi dalam tiga kelompok, jadi ada sekitar 20 orang wartaran media cetak dan elektronik dalam satu kelompok. Satu kelompok ditugaskan ke Korea Selatan. Satu kelompok lainnya ke Taiwan, dan satu kelompok lainnya ke Jepang. Saya sengaja milih ke Osaka, karena di dalam rute perjalanan setelah dari Osaka berangkat ke Tokyo. Nah, kebetulan, saya kata Agen Biro Perjalanan ‘’langganan’’ Pertamina hanya nambah US$ 100 saja kalau menambah rute antara Jakarta – Osaka – Tokyo – Los Angeles – Taipei – Kuala Lumpur – Jakarta. Itu terjadi pada tahun 1992. Gas alam cair atau disebut LNG (Liquefied Natural Gas) berasal dari Kilang Bontang, Kalimantan Timur dan Kilang Lhok Seumawe, Banda Aceh. Adik saya, tentu saja dia bersama suaminya menjemput saya di Bandara Los Angleles, karena perjalanan darat San Diego – Los Angeles paling lama dua jam.
Kesempatan lain menengok adik saya di San Diego, pada tahun 1995, ketika saya meliput seminar energy dan kelistrikan di Madrid Spanyol. Ini sih berkat ‘’kedekatan’’ wartawan RRI Achmad Parembahan. Karena dia dekat dengan Kepala Biro Humas PLN Pak Tombek, ‘’sama-sama asal Manado’’, maka aku diusulkan Achmad Parembahan ke Tombek agar aku diundang juga pada seminar energy dunia di Madrid itu.
Ketika itu, saya bilang ke Agen Biro Perjalanan Perusahaan Listrik Negara, agar rute perjalanan saya berubah rute saja, yang semula Jakarta – Amsterdam – Madrid – Amsterdam – Singapura – Jakarta, dirubah dari Jakarta – Amsterdam – Madrid – New York – Los Angeles – Jakarta. Nah, dari Los Angeles inilah saya dijemput lagi oleh adik saya. Maklum, kalau ngak ‘’nyambi’’ meliput ini mana ada ‘’uang’’, apalagi gaji para wartawan kebanyakan kecil dan hanya cukup untuk biaya hidup bersama keluarga sebulan. Ngak ada sisa untuk ‘’plesiran’’ atau ‘’ditabung’’. Kesempatan untuk nengok adik saya, memang hanya Ayah dan Ibu saya, itupun kerap karena Adik saya mengirim tiket dan biaya lain.
Tentu saja, sebelumnya saya minta visa di Kedubes AS dengan alasan mau meliput pidato Presiden Soeharto di Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York. Memang, ketika itu, saya ketemu Reporter Media Indonesia yang sehari-hari mangkal di ‘’Istana’’, saudari Retno Indarti Darmoyo, yang kini bersuamikan wartawan senior dan mantan Pemimpin Redaksi Harian Bisnis Indonesia, Yulius Kerong. Ketika itu Retno ikut rombongan ‘’kunjungan kenegaraan Presiden Soeharto’’. Bahkan, selama saya mampir di New York, saya sempat ‘’numpang’’ nginep di rumah Pak Bakran Asnawi, ketika itu Kepala Biro LKBN Antara di New York. Satu hari setelah ‘’nginep’’ di rumah Bapak Bakran, besoknya saya bergabung ‘’nginep’’ di hotel ‘’para wartawan istana’’ . Diantaranya Pemimpin Redaksi Harian Terbit yang kini juga Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia saudara Tarman Azzam. Tarman Azzam sendiri saya sudah kenal ketika dia masih menjadi wartawan Bisnis Indonesia.
Di hotel ini saya numpang di ‘’kamar’’ jatahnya ‘’Fardah’’ wartawati senior LKBN Antara. Fardah tidur di kamar, saya di kursi ruang tamu. ‘’Maklum, saya dan dia bukan muhrim. Sehingga saya kalau malam ‘’menahan kencing’’ sampai pagi, karena toiletnya di dalam kamar. Maklum, namanya juga numpang, tau diri, ngak mau ganggu yang lagi tidur di dalam. Lagi pula untuk ‘’mencegah’’ yang ngak-ngak. Katanya, kalau ada satu pria dan satu wanita bukan muhrim ‘’setan’’ bisa masuk ke pikiran dan bisa datang ‘’nafsu’’ syaitan ‘’ selingkuh’’.
Dikerjain Hostes
Rombongan konferensi energy ke Madrid antara lain mantan Direktur Utama PLN ketika itu Ermansyah Yamin, ada juga pengusaha dari Medco Group Hadi Basalamah, dan beberapa orang staf ahli di Departemen Pertambangan dan Energi.
Ada kejadian menarik ketika saya dan Achmad Parembahan seusai meliput konferensi, hotel tempat kami menginap di lantai dasar ada night clubnya. Karena penasaran, saudara Achmad Parembahan, yang ketika itu sudah ‘’Haji’’ mengajak saya singgah, yang walaupun katanya hanya minum coca cola saja. Saya ketika itu peringatkan Saudara Achmad Parembahan. ‘’Kita jangan masuk, nanti kita dikerjain. Saya sudah mengetahui hal serupa ketika pernah jalan-jalan ke San Francisco dan di Wina, Austria dan beberapa Negara Eropa lainnya,’’ kataku kepada Achmad. ‘’Ah, ngak apa-apa, kita Cuma minum coca cola saja kok, paling bayarnya ngak seberapa,’’ kata Achmad, sambil membujuk saya, agar ikut.
Lalu, kami berdua masuk, dan memilih meja. Tiba-tiba saja, sudah ada dua orang perempuan. Satu perempuan etnis keturunan asal Arab, Maroko menemani Achmad Parembahan, dan satu yang lain lagi asli Madrid, Spanyol, menemani duduk di sebelah saya.
Setelah kami minum soft drink, coca-cola itu, segera saja saya bilang ke Achmad untuk pamit ke kamar, karena saya sudah ngantuk. Namun, alangkah kagetnya kita ketika disodorin ‘’billing’’ sekitar US$ 5000 hanya minum dua gelas coca-cola. ‘’Loh, saya kan hanya minum coca cola dua gelas kecil, kok semahal itu,’’ kataku ke kasir. ‘’Tidak, bapa, Bapa sudah masuk sini, dan pesan dua perempuan, ini artinya bapa sudah ‘’all in’’ (kedua perempuan itu bisa dimanfaatkan) , artinya ‘’bisa’’ pakai perempuan ini di kamar. Kalau, kalian berdua tidak ‘’memakainya’’ itu urusan lain. Tetap Bapa harus bayar,’’ kata Kasir itu, sambil didampingi dua orang bodyguard berbadan atletis dan besar seperti pegulat sumo terus ‘’memelototi’’ kea rah saya dan Achmad, wartawan Senior Radio Republik Indonesia itu.
Akhirnya, daripada ‘’pulang’’ ngak bawa nyawa, aku dan Achmad akhirnya patungan, masing-masing US$ 2.500. Padahal, uang ini adalah tabunganku untuk nengok adik dan untuk oleh-oleh yang akan aku beli dan aku bawa ke San Diego. Usai bayar U$ 5000 patungan berdua Achmad, lalu aku segera kembali ke kamar hotel, sambil aku ‘’ngumpat’’ Achmad terus menerus, karena sudah aku ingatkan dia, tapi dia tetap bandel. Inilah musibah yang aku ngak bisa lupakan sampai sekarang. Mungkin, ini adalah ‘’cobaan’’ dari Allah SWT. Aku diuji, apakah bisa luluh imannya terhadap godaan dua perempuan tadi , yang ketika duduk berempat, selalu ‘’menggoda dengan bujuk rayuan’’. Aku lihat sih, Achmad Parembahan, yang walau sudah haji ‘’hampir saja’’ kalah sama ‘’godaan Syaitan. ‘’Biarlah hilang uang, asal jangan hilang ke perjakaan,’’ kilah ku dalam hati. Allah SWT rupanya masih melindungku dari ‘’godaan dunia’’. Al-Qur’an bilang, hidup ini adalah cobaan dan sandiwara. Kalau kita mengikuti saja hawa nafsu kita atas sandiwara di dunia. ‘’Kita berarti gagal’’. ‘’Alhamdulillah, selama 25 tahun menjadi wartawan. Apa sih yang ngak bisa kalau kita ‘’sebagai wartawan’’ pengen cepat kaya. Selain kita bisa ‘’injak’’ kaki para koruptor, sogokan selain berupa ‘’amplop’’ biasanya juga ‘’disodori’’ ‘’perempuan’’ atau ‘’cewe’’. Auzubilahiminzalik’’.Alhamdullilah, Allah SWT masih tetap ‘’melindungiku’’.
Perjalanan yang belum selesai (9).
Para Redaktur dan Reporter ingin ‘’mengkudeta’’ SuryaSurya Paloh, karena mengira ‘’Sudono Salim’’ menjadi pemilik ‘’mayoritas’’ saham harian Media Indonesia. Gagal masuk SCTV terkana diabetes. Akhirnya ditampung Bambang Budjono di Majalah ‘’D&R” majalah pengganti ‘’Tempo’’ yang dibreidel. Gagal Masuk Total FinaElf, walau sudah tes ‘’telanjang bulat’’ dilihat Ibu Dokter. Baru dua bulan bermarkas ‘’gedung D&R” di Salemba terbakar.
http://www.allvoices.com/contributed-news/4817559-perjalanan-yang-belum-selesai-9
Oleh: Muhammad Jusuf*
Harian Media Indonesia merupakan Koran atau media Harian pertama dan sampai saat ini menjadi terakhir, sebagai tempat saya berkiprah sebagai wartawan. Setelah mengawali karir di media sebagai Korektor di Majalah Tempo dan Majalah ‘’Zaman”, kemudian pindah ke LKBN Antara mulai menjadi seorang wartawan, kemudian setelah enam tahun di LKBN Antara (1984-1990), kemudian pindah ke Majalah Mingguan Ekonomi PROSPEK milik Soetrisno Bachir, dan baru pindah ke Harian Media Indonesia, ketika kantor awal mereka pada akhir tahun 1990 masih di Gondangdia Lama, Jakarta Pusat. Beberapa tahun kemudian, markas Media Indonesia pindah di Kedoya, Kebun Jeruk, Jakarta Barat, yang beberapa tahun kemudian tempat ini juga menjadi markas Metro TV sekaligus lokasi ‘’mesin percetakan’’ Harian Media Indonesia.
Di harian Media Indonesia, pimpinan Redaksi tertinggi awalnya disebut Redaktur Eksekufit. Hal ini disebabkan Drs Youslisyah sebagai Pemimpin Redaksi hanya jabatan ‘’simbol’’ atau non-aktif. Belakangan, baru Pemimpin Redaksi dipimpin oleh orang yang sebelumnya pada posisi Redaktur Eksekutif. Salah satu kebanggaan menjadi wartawan di Media Indonesia adalah, seperti halnya ketika mereka menerbitkan ‘’Harian Prioritas’’ mereka dikenal ‘’berani’’ dalam berbagai pemberitaannya. Hal ini berbeda dengan media sejenis pada masa ini, terutama dimasa rezim ‘’Suharto’’ berkuasa. Walaupun Surya Paloh dekat dengan Presiden Suharto, terutama dengan anak-anak mendiang Presiden kedua Indonesia itu, seperti dengan Bambang Trihatmodjo. Apalagi, isteri Surya Paloh masih kerabat Rosanno Barach, salah satu pemegang saham dan pengendali Bimantara Group, sehingga tidak heran bila dulu ada kesan, atau memang betul bahwa ‘’Harian Media Indonesia’’ sebagian saham milik Bambang Trihatmodjo.
Idialisme Surya Paloh di dalam menjalankan roda ‘’Harian Media Indonesia’’ memang patut diangkat ‘’jempol’’. Apalagi, pada awal, ketika ‘’Media Indonesia’’ mulai ‘’diambil alih’’ manajemen dan saham kepemilikannya dari Drs Youslisyah ke Surya Paloh, Media Indonesia tidak mudah menarik para pembaca baru, maupun menarik banyak iklan, sehingga ada kabar media ini sempat ‘’kehabisan modal’’. Tidak heran bila ada kabar harian ini pernah ‘’disuntik’’ Bimantara group, bahkan disuntik oleh pengusaha kaya Sudono Salim. Ini bisa dilihat ketika ‘’Sudono Salim’’ pernah mengirim tim ‘’manajemen’’ mereka untuk membantu ‘’manajemen Harian Indonesia’’. Kabar mengenai apakah Harian Media Indonesia pernah disuntuk modalnya oleh Bimantara atau pribadi Bambang Trihatmodjo atau pernah disuntik oleh kelompok Sudono Salim memang belum jelas benar. Apalagi, adanya pengalihan atau siapa sebenarnya pemilik Media Indonesia group ini tidak pernah secara diumumkan kepada umum, berupa brosur, seperti layaknya kalau perusahaan mau atau akan ‘’go public’’.
Itulah sebabnya, dulu ada sekelompok para Redaktur dan Reporter ingin ‘’mendongkel’’ Surya Paloh agar ‘’keluar’’ dari Media Indonesia, setelah mereka melihat lebih dari 10 orang-orangnya ‘’Sudono Salim’’ ada di dalam manajemen harian media Indonesia, sehingga para Redaktur dan Reporter ini mengira mayoritas saham Harian Media Indonesia sudah milik Sudono Salim, sehingga mereka yang ‘’tidak suka’’ dengan Surya Paloh mencoba ‘’mengkudeta’’. Bahkan, ada diantara para Redaktur itu secara terbuka ‘’melawan’’ langsung atas segala perintah Surya Paloh.
Pernah ada rencana Rapat Kerja para Redaksi di Hotel Horizon Jakarta, dan ada Redaktur Eksekutifnya ketika itu ‘’melawan perintah’’, langsung diturunkan jabatannya dari Redaktur Eksekutif menjadi Reporter. ‘’Mulai hari ini kamu jadi Reporter,’’ kata Surya Paloh, ketika itu. Peristiwa ini terjadi seusai lebih dari 20 Redaktur termasuk reporter menandatangani ‘’petisi’’ penolakan terhadap kepemimpinan Surya Paloh. Akhirnya, bukannya Surya Paloh yang ‘’terjungkal’’, malah hampir semua para Redaktur dan Reporter itu yang malah ‘’keluar’’ atau mengundurkan diri. Satu hal yang harus dipuji dari Surya Paloh, dia tidak ‘’menaruh dendam’’ terhadap para Redaktur dan Reporter yang ingin ‘’mengkudeta’’-nya ketika itu. Malah banyak diantara mereka yang setelah keluar, diterima kembali bekerja di Harian Media Indonesia dan Metro TV, dan sebagian dari mereka terus bekerja sampai pensiun.
Surya Paloh selain dikenal tegas, juga bekerja ingin cepat. Kadang kita baru satu langkah ke depan, dia sudah tiga langkah sampai duluan. Tidak heran, walau dia tidak ingin ikut campur langsung terhadap isu keredaksian, namun selalu ingin mencari orang-orang terbaik dari luar agar bisa memimpin harian Media Indonesia. Itulah sebabnya ketika saya baru diangkat menjadi ‘’Koodinator Reportase’’ Surya Paloh perlu memanggil saya ke salah satu ruangan sambil berujar : ‘’Apa sih kelebihan mu Suf,’’ tegas Surya Paloh kepada Saya, yang baru saja beberapa hari diangkat Redaktur Eksekutif Nasruddin Hars menjadi Koordinator Reportase, dari sebelumnya Redaktur Internasional. Saya, ketika itu, diam saja, karena ini hanya dijawab dengan pelaksanaan dalam bekerja.
Keinginan Surya Paloh agar Media Indonesia menjadi Harian atau Koran terbaik memang terus dilakukan dari sejak awal, mulai dari dia mengelola harian Prioritas. Lihat saja orang seperti Panda Nababan, Fakri Ali, Amir Daud, Nasruddin Hars, Bambang Harimurti pernah ‘’direkrut’’. Ia pun pada masa saya mencoba merekrut beberapa orang luar seperti Andy Noya dan Usamah Hisyam. Belakangan, setelah saya keluar, dia masih saja mencari dan terus mencari orang-orang terbaik itu, seperti Saur Hutabarat, Djafar Assegaf, Tuti Adhitama, bahkan mantan Pemimpin Redaksi Harian Kompas Suryopratomo pun kini juga ditampungnya. Hasilnya, memang sudah terasa, iklan pun sudah banyak masuk. Masa-masa kesulitan keuangan pun sudah dilewati. Walaupun mungkin belum ‘’break even point’’ karena investasi awal yang keluar sudah ‘’terlalu’’ banyak.
Pindah ke SCTV
Sekitar bulan April 1986, saya dating ke kantor Redaksi Surya Citra Televisi Indonesia di Blok M Jakarta. Saya menemui Eddy Ellison, mantan Redaktur Eksekutif Harian Media Indonesia yang sudah pindah ke SCTV, karena posisinya di Harian Media Indonesia ‘’sudah diganti’’ Bambang Harimurti. Di SCTV memang Pemimpin Redaksinya adalah Sumita Tobing, rekan Eddy Ellison ketika sama-sama di TVRI.
Ketika bertemu Eddy Ellison, saya ungkapkan bahwa saya berminat menjadi Reporter SCTV. Setelah ada lampu merah dari Bapak Eddy Ellison dan Sumita Tobing, saya pun besoknya melayangkan surat pengunduran diri ke HRD Media Indonesia.
Namun, setelah saya seminggu masuk ke ‘’SCTV’’, ternyata ada kabar buruk bagi saya dan keluarga. Saya, yang sudah telanjur ‘’keluar’’ dari Media Indonesia dinyatakan tidak lulus tes di SCTV, padahal saya kira, dengan komitmen awal dari Bapak Eddy Ellison, masalah lain, seperti tes kesehatan tidak diperlukan lagi. Apalagi, ketika itu saya merasa ‘’sehat’’, karena tes kesehatan, baik ketika masuk Majalah Tempo dan LKBN Antara saya secara keseluruhan dinyatakan sehat.
Rupanya buku laporan dari RS Pertamina yang saya berikan ke poliklinik RCTI di Kebon Jeruk, karena SCTV menggunakan jasa poliklinik RCTI untuk mengetes calon karyawannya ada tercantum kalau saya sudah terkena ‘’diabetes’’. Buku laporan ini saya peroleh, ketika para wartawan yang bertugas ‘’ngepos’’ di Pertamina mendapat ‘’bonus’’ berupa ‘’general chek up’’ gratis di Rumah Sakit Pertamina, mulai dari kesehatan mata, paru-paru, jantung, sampai pemeriksaan darah dan urin untuk mengetahui ada tidaknya penyakit di dalam tubuh. Ternyata, dari general chek up itu memang dokter yang menilai secara keseluruhan saya dinyatakan sehat. Namun, saya tidak memperhatikan catatan kecil, bahwa saya perlu dan direkomendasikan agar perlu memperoleh pemeriksaan lebih lanjut ke dokter spesialis penyakit dalam, karena kadar gula darah saya di atas normal, sekitar 300’an. Padahal normalnya sekitar 120.
‘’Bagai disambar petir’’ disiang hari, saya langsung mendapat kabar dari Personalia SCTV, langsung di depan mata Ibu Sumita Tobing dan Eddy Ellison, kalau saya tidak diterima di SCTV. Jadi, ini boleh jadi ‘’kecelakaan’’. Sudah bikin surat pengunduran diri dari Media Indonesia, padahal saya belum tentu pasti diterima di SCTV. Itulah sebabnya, setelah ini saya mencoba tes di berbagai perusahaan lain. Hasilnya, ketika saya sudah diterima di perusahaan minyak Total FinaElf untuk jadi Humas untuk ditempatkan di Balikpapan juga gagal. Padahal di Total ini saya sudah lulus tes wawancara dan tes lain, bahkan sudah tanda tangan kontrak kerja penerimaan. Namun, dengan catatan, saya baru dan boleh bekerja setelah dinyatakan ‘’fit’’ di poliklinik milik Pertamina di Jalan Perwira. Akhirnya, setelah dites di rumah sakit Pertamina ini, saya dinyatakan ‘’tidak fit’’, artinya ‘’penyakit diabetes’’ saya menyebabkan saya dinyatakan tidak fit. Padahal, tes di Poliklinik di Pertamina ini tesnya seperti masuk menjadi tentara, kita disuruh ‘’telanjang bulat’’, bahkan dokter perempuan di Poliklinik milik Pertamina itu ‘’memelototi’’ ‘’burung kemaluan saya’’ dari dekat. Malu, juga rasanya. Tapi, demi diterima di Total, aku mau saja ‘’disuruh’’ Ibu Dokter itu, walau akhirnya aku dinyatakan ‘’tidak fit’’.
Setelah beberapa bulan ‘’nganggur’’, ada kabar pemilik Majalah Tempo seperti Goenawan Muhamad berencana untuk ‘’membeli’’ Majalah Detektif dan Romantika, yang ketika itu adalah sebuah Majalah yang berisi berita-berita criminal dan masalah hukum. Pengambil alihan ini, konon untuk ‘’menampung’’ para wartawan ‘’Tempo’’ yang mendapat ‘’black list’’ dari pemerintah sehingga tidak bisa lagi ‘’bekerja’’.
Akhirnya, atas inisiatif Bapak Zulkarnaen, Yusril Djalinus dan beberapa senior Majalah Tempo, Majalah D&R akhirnya diambil alih, dengan Bambang Budjono menjadi Pemimpin Redaksinya, dan hampir sebagian besar Redaktur lainnya juga eks wartawan Tempo, seperti Happy Sulistiadi, Rini PWI, Rustam F Mandayun, Diah Purnomowati, Yusril Djalinus, Putu Setia, dan bidang Design Grafis dan jajaran manajemen lainnya.
Berkat kebaikan hati bekas Manager HRD Tempo, yang sebelumnya jadi HRD Manager PT Citra Media Nusa Pernama ‘’Harian Media Indonesia” Ibu Nita, dan Bambang Bujono, walaupun setelah dites kesehatan di Rumah Sakit Carolus, saya tidak bisa menghindari lagi kalau ada penyakit ‘’diabetes’’, maka saya mulai Mei 1996 bekerja di Majalah D&R, ketika itu masih di Salemba, Jakarta Pusat.
Namung, malang, baru dua bulan bermarkas di Salemba, gedung ini turut terbakar, banyak barang saya, dan juga teman, bahkan sepeda motor Fotografer Rully Kusuma ikut terbakar , akibat kerusuhan yang diawali demo di depan kantor Partai Demokrasi Indonesia di Jalan Deponegoro yang merambat ke segala arah di Ibukota, termasuk Kantor ‘’Baru’’ D&R. Padahal, kata Direktur D&R, investasi untuk Majalah D&R, termasuk perangkat computer baru sudah miliaran. Padahal belum sempat diasuransi.
Kami pun kemudian pindah ke Jalan Cikini II, sebelum pindah lagi ke ‘’Gedung Baru Tempo” di jalan Proklamasi. Setelah dibeli Jakarta Post, kantor kami pindah lagi ke Jalan Iskandarsyah Raya, Blok M, Jakarta Selatan, sampai tutup.
Sejak awal terbit, Majalah D&R manajemen baru tidak mencantumkan nama-nama wartawan eks Tempo di dalam mashed, karena masih di ‘’black list’’. Yang ada adalah orang-orang, atau karyawan dan pimpinan Jawa Pos Group. Tidak heran di Masheed nama Pemimpin Redaksinya adalah Margiono, pimpinan di Jawa Pos, sebagai symbol di ‘’Masheed’’ di Majalah D&R. Memang, yang kerap memberikan ‘’wejangan’’ di “D&R’’ adalah ‘’Dahlan Iskan’’ bukan ‘’Gonawan Muhamad’’.
Tidak heran, Margiono, yang kini menjadi Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) inilah yang ‘’dipanggil’’ kepolisian menjadi ‘’terdakwa’’ ketika ‘’Majalah D&R” diadukan Menteri Penerangan ketika itu Hartono, karena memuat ‘’cover’’ Kepala Suharto, sedangkan badannya bergambar ‘’raja’’ persis Raja di kartu ‘’Remi’’. Menurut Jenderal (Punr) Hartono, ketika itu Menteri Penerangan, Majalah D&R telah ‘’melecehkan” dan ‘’Menghina” kepala Negara. Padahal, Margiono yang di Masheed tercantum sehari-hari sebagai Pemimpin Redaksi, namun “jarang datang’’ karena sebenarnya ‘’non-aktif’’. Sebenarnya, Bambang Bujono lah Pemimpin Redaksi yang nyata.
Selain Margiono, juga para Redaktur lain yang ada di dalam Masheed juga dipanggil, termasuk saya. Kita sempat belasan jam di ‘’interogasi’’ di Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia. Seandainya saja ‘’Pak Harto’’ masih terus berkuasa, mungkin saja Bapak Margiono, saya dan teman-teman lain akan merasakan ‘’bui’’, kalau terbukti menjadi ‘’terpidana’’.
Alhamdullia, Pak Harto keburu ‘’lengser’’. Proses cover Majalah D&R ini pun tidak dilanjutkan lagi. Alias ‘’di SP3-kan”. Walau surat ‘’SP3-nya’’ belum pernah kami lihat.
Setelah satu tahun di kelola sendiri, dan Majalah Tempo terbit lagi, sebagian besar ex wartawan Tempo kembali mengelola Majalah Tempo ‘’baru’’, hanya beberapa orang saja yang tersisa, dan Bambang Bujono tetap menjadi Pemimpin Redaksi D&R, maka ada pemikiran untuk ‘’menjual’’ majalah ini ke Jakarta Post. Namun, setelah berjalan dua tahun, oplah D&R terus merosot, mungkin mulai ‘’tergerus’’ oplah Majalah Tempo, yang ‘’mirip’’ sama dengan isu dan isi D&R, akhirnya setelah tiga tahun berjalan, Majalah D&R walaupun secara resmi belum ditutup, namun karyawannya mulai Januari tahun 2000 mulai ‘’mendapat pesangon’’ dan dirumahkan.
Perjalanan yang belum selesai (10).
http://www.allvoices.com/contributed-news/4852712-perjalanan-yang-belum-selesai-10
Bersama Yenny Wahid diterima menjadi Koresponden Radio Singapore Internasional di Jakarta. Merangkap pekerjaan Reporter Radio Singapore Internasional dan Hager Internasional. Melepas keduanya, karena serakah, ingin peroleh income Rp 200 juta per bulan dari PT Asuransi Jiwa Tugu Mandiri. Mencoba ‘’mendamaikan konflik Islam vs Kristen di Ambon’’. Baru sebulan bertugas di Ambon, konflik pecah, mengungsi ke Jakarta, satu bulan kemudian kembali ke Ambon membangun tiga radio komunitas di dua perbatasan ‘’Kristen-Islam’’. Malam itu, Ambon, bagai kota lautan api.
Oleh; Muhammad Jusuf *
Belum sempat ‘’nganggur” aku dipanggil Ibu Kun, mantan Redaktur Senior tabloid “Zaman”, dimana tahun 1983’an aku pernah menjadi korektornya. Rupanya, Ibu Kun ketika itu menjadi Production Manager proyek Manajemen ‘’Coastal Resources Management” University of Rhode Island’’ dari Amerika Serikat yang memperoleh dana USAid melaksanakan proyeknya di berbagai kota di Indonesia.
Ketika aku tiba di Ratu Plaza lantai 18, Country Manager Mr Dr. Ian asal Australia mewancarai aku. Dia ditemani Ibu Kun. Sesampainya aku di rumah, pukul 03.00 sore, Ibu Kun menelpon ku, kalau aku diterima menggantikannya menjadi Production Manager, sedangkan Ibu Kun sendiri dipromosikan menjadi Out Reach Manager.
Ketika itu, Majalah D&R belum resmi tutup, namun tengah ‘’membagi-bagikan pesangon kepada para wartawan. Ketika aku sampai di kantor D&R di Jalan Iskandarsyah, Bambang Bujono, Pemimpin Redaksi Majalah D&R ketika itu bilang, ‘’Ibu Kun, beberapa hari lalu telpon, dia ingin konfirmasi mengenai kamu Suf,’’ kata Bambang, kepadaku. Aku sendiri hanya ‘’mesem-mesem saja, malu, mengingat, baru tanggal 1 Januari 2000 Majalah D&R resmi tutup. Sedangkan aku sendiri masih satu minggu lagi berkantor di Majalah itu, dan sudah pula ada yang menerima aku di tempat baru.
Aku oleh Mr Ian ditempatkan di kampus Dramaga Bogor, kebetulan proyek yang juga ada perwakilan di Manado, Balikpapan dan Lampung ini memiliki kantor perwakilan di Dramaga, IPB sebagai ruang produksi, diantaranya untuk memproduksi dan mendesign buku-buku laporan dan buku hasil penelitian mengenai manajemen lingkungan di laut pesisir. Kebetulan konsultan utama proyek ini adalah Dr.Rokhmin Dahuri, ketika itu dia belum menjadi Menteri Kelautan, Departemen Kelautan sendiri ketika itu belum dibentuk.
Namun, baru tiga bulan bekerja di Proyek ini, aku menghadapi kesulitan untuk mengatur waktu kuliah S2-ku di Universitas Indonesia. Apalagi, aku sudah pada tahap akhir semester. Jadi, saying kalau aku tidak menuntaskan kuliah ku, sehingga aku membuat surat pengunduran diri kepada Mr Ian dan Ibu Kun, kalau aku tidak bisa mengatur waktu antara tugasku sebagai mahasiswa S2 Universitas Indonesia dengan tugasku sebagai Manager Produksi proyek University of Rhode Island di Indonesia.
Untuk membiayai sekolah S2 ku, aku mengikuti tes untuk jadi koresponden Radio Singapore Internasional, yang kebetulan memasang iklan di Kompas, kalau Radio milik pemerintah Singapura ini memerlukan Radio Broadcaster untuk ditempatkan di Singapora, dan koresponden untuk ditempatkan di Jakarta.
Ketika itu, banyak juga peserta yang mengikuti tes, baik untuk Broadcaster di Singapura maupun koresponden di Jakarta. Aku melihat ada banyak ‘’bule’’ yang ikut tes ketika itu diselenggarakan di Hotel Wisata yang bersebelahan dengan Hotel Indonesia. Terlihat juga Yenny Wahid, putrid mantan Presiden Indonesia Abdurrahman Wahid juga ikut tes.
Yang mewawancarai saya ketika itu adalah senior Radio Singapor, seperti Ibu Zaenab Rahim, dan Bapak Noetil. Hasilnya, untuk koresponden, ada dua orang yang lulus, aku sendiri dan Yenny Wahid. Namun, Yenny Wahid kemudian mengundurkan diri, karena Ayahnya terpilih menjadi Presiden Republik Indonesia. Sedangkan mereka yang diterima menjadi Broadcaster di Singapura diantaranya saudara Monang, Harry Soehartanto dan Rane Hafied.
Selain di Radio Singapore, ketika itu aku juga merangkap menjadi koresponden Hager International dari Jerman. Dari kedua media ini, pendapatanku lumayan. Rata-rata sekitar Rp 10 juta per bulan. Cukup besar. Bahkan, tiga bulan pertama aku bekerja untuk Hager Internasional, penghasilan ku lumayan, bisa jauh lebih besar, sehingga tidak heran bila dalam beberapa bulan kemudian, aku mampu membeli mobil ‘’Kijang bekas” seharga Rp 39 juta, Kijang Rover tahun 1996. Karena kedua media ini membayar ku per satu tulisan kalau di muat, karena Radio Singapura membatalkan mengangkat Koresponden resmi, sehingga aku diperhitungkan sebagai Koresponden Freelance atau Part Time. Tapi, lumayan, Radio Singapure membayarku antara US$ 50 sampai US$ 200 dolar Singapura per satu berita, tergantung panjang pendek dan aktualitas berita.
Namun, sifat serakahku sebagai manusia kembali muncul, seperti yang sudah-sudah, aku selalu pindah ke perusahaan lain yang menggajiku naik berlipat. Seperti kepindahanku dari LKBN Antara ke Majalah Prospek, karena gaji ku naik 10 kali lipat. Nah, kini tawarannya bukan dari perusahaan Media, tetapi dari perusahaan Asuransi, PT Asuransi Tugu Mandiri, yang sebagian sahamnya milik Pertamina dan Bob Hasan.
Di perusahaan ini ada lowongan Branch Manager untuk di tempatkan di Balikpapan, kota kelahiranku. Ketika aku lulus tes, aku ditawari gaji pokok Rp 3 juta per bulan. Mobil dinas dan insentif lain, selain proyeksi bonus dan insentif, yang katanya mencapai Rp 200 juta. Pertama, penempatan ke Balikpapan, kota kelahiran ku merupakan daya tarik utama. Kedua, proyeksi memperoleh bonus Rp 200 juta per bulan daya tarik lain. ‘’Bukankah ini peluang bergaji besar, seperti Gaji Direktur Utama Pertamina,’’ dalam hatiku berkata. Sehingga, tanpa pikir panjang lagi, aku menerima saja tawaran menjadi Branch Manager ini.
Setelah mengikuti Training selama satu minggu di Puncak, yang diikuti calon Branch Manager PT Asuransi Tugu Mandiri yang akan ditempatkan di seluruh cabang, aku pun mulai pindah ke Balikpapan. Isteri dan kedua anak ku sendiri tidak ikut. Kata Isteriku, mereka takut ikut, karena belum jelas, apakah betul income sebesar itu bisa diperoleh.
Tentu saja, dengan berat hati aku lepaskan pekerjaanku yang sudah enak di Radio Singapore Internasional dan Hager International Bulletin. Untuk Hager International aku digantikan teman kuliah sama-sama mengambil Kajian Wilayah Amerika di Universitas Indonesia , Hananto Satyo. Sampai kini Hananto Satyo tetap menekuni menjadi koresponden Hager Internasional.
Benar, saja, setelah tiga bulan, ternyata, aku tidak pernah memperoleh gaji melebihi gaji pokok. Padahal, ketika ke Balikpapan, saya sudah membawa setengah barang-barang rumahku, termasuk kompor gas dan peralatan lain, artinya, aku sudah siap untuk pindah sampai pension di Balikpapan. Namun, ternyata, apa yang dijanjikan PT Asuransi Tugu Mandiri bahwa aku bisa memperoleh ‘’bonus’’ rp 200 juta per bulan, kalau aku mencapai target income seperti yang perusahaan proyeksi dan targetkan. Sedangkan aku selama enam bulan terakhir, tidak pernah mencapai target. Padahal ketika ‘’hijrah’’ pulang kampung, aku membawa serta adik kandung ‘’Rachmat Edy’’ agar dia bisa membantu ku mengembangkan bisnis baru, bidang asuransi ini. Padahal, Rachmat Edy yang harus mengorbankan pekerjaannya sebagai wartawan Merdeka dan Tabloid Paron sertan mantan Korektor Majalah Prospek ini sesampainya di Balikpapan juga tidak bisa memperoleh apa yang bisa dijanjikan perusahaan.
Boleh jadi, inilah yang banyak diungkapkan banyak pakar. Kalau kita ingin sukses, kita harus bekerja secara focus di satu bidang. Jangan loncat-loncat ke bidang lain. Banyak orang sukses, karena dia menekuni satu bidang. Contohnya, BJ.Habibie, sebagian besar hidupnya difokuskan pada pengembangan industry pesawat terbang. Bill Gates pada pengembangan perangkat lunak computer, Herman Kertajaya bidang Marketing, Surya Paloh dan Dahlan Islan di bidang bisnis Media, walaupun Surya Paloh awalnya berbisnis Katering, tetapi belakangan lebih focus ke bisnis Media, walau bisnis awal tetap menjadi penopang utama bisnis Media.
Kembali ke Jakarta, aku sempat ngangur. Lebih enam bulan, itulah sebabnya, mobil King Rover ku sempat aku jual, untuk menopang hidup dan membiayai kedua anak perempuanku sekolah. Sempat mencoba bersama teman mantan reporter di D&R Aendra Medita dan Budi Nugroho bergerak di Bidang Public Relations dan konsultan Event Organizing, tetapi dalam beberapa bulan, ngak dapat klien, sehikngga kami sempat bergabung dengan group Cakrisma pimpinan Eggy Masadiah yang pernah memproduksi film ‘’Lari Dari Blora’’ itu.
Namun, enam bulan bergabung dengan Bapak Egy Masadiah yang belakangan salah satu calon anggota DPR dari Partai Golkar itu, saya ditawari Yayasan Bina Swadaya menjadi Communications Specialist yang bertugas memberdayakan ekonomi masyarakat kota Ambon, dan melaksanakan proyek komunikasi perdamaian pasca konflik, khususnya terhadap para pemuda Kristen dan Islam di kota Ambon.
Ketika itu, salah satu alasan aku memilih dan menerima tawaran Yayasan Bina Swadaya, karena di Cakrisma aku belum digaji, hanya komisi. Padahal, belakangan Budi Nugroho dan Aendra Medita yang tetap bertahan di Cakrisma mendapat gaji pokok. Aku sendiri tidak bisa hidup ‘’tanpa gaji’’, karena biaya sekolah kedua anakku, terutama anak pertamaku yang sudah kuliah cukup besar.
Sebenarnya, ketika aku tes di Yayasan Bina Swadaya, salah satu sainganku adalah bekas temanku yang pernah sama-sama menjadi Reporter di Harian Media Indonesia, saudara Gerad Bibamg. Hanya saja, Gerad Bibang ketika itu baru saja selesai bekerja sekitar 10 tahun di Radio Jerman (DW) dan Radio Helversum, Belanda.
Aku pernah bertanya kepada Totok, yang menjadi HRD Yayasan Bina Swadaya, kenapa kok aku yang dipilih bertugas ke Ambon, bukan Gerald Bibamg. ‘’Aku melihatnya, Anda, lebih obyektif dan tidak memihak. Padahal, yang kita hadapi adalah konflik berlatar agama, yaitu konflik antara Umat Islam dan Kristen di Ambon,’’ kata Totok kemudian.
Konflik Pecah.
Sekitar awal Februari 2004, aku mulai ditempatkan di Ambon, bersama team leader IDBM Adiyoga, ditemani konsultan senior dari Yayasan Bina Swadaya Saudara Ruru Basanta. Ruru ini hanya menemani sekitar satu bulan, untuk persiapan jalannya proyek bantuan pemerintah Selandia Baru (NZAid) ini.
Namu, baru sekitar 1 bulan berada di Ambon, bersamaan dengan HUT Republik Maluku Selatan, tanggal 25 April 1984, terjadi kerusuhan di tengah kota Ambon, tepatnya di sekitar perbatasan antara Batu Gajah, dikenal sebagai daerah ‘’Kristen’’ dengan kawasan Islam, di sekitar Waihaong, tempat Masjid Raya Ambon berada.
Ketika itu kabarnya, sudah ada kerumunan dan konsentrasi massa yang cukup besar di sekitar kawasan perbatasan Waihaong dan Batu Gadjah itu. Aku ketika itu tengah mendapat giliran memasak dari Bapak Adiyoga. Bersama saudara Ruru Basanta, kami ketika itu tengah berada di dapur. Kebetulan rumah merangkap kantor kami yang dikontrak Yayasan Bina Swadaya terletak di atas bukit, masih masuk kawasan ‘’Kristen’’ yang baru saja habis terbakar. Namun, seusai dibangun penghuninya, kami kontrak. Penghuninya sendiri memilih ‘’hijrah ke Jakarta’’, katanya ikut anaknya yang bekerja di Jakarta.
Jadi, di atas bukit, rumah kontrakan kami, kami bisa memantau dengan jelas, apa yang bisa terjadi di perbatasan antara kawasan Batu Merah, yang berpendudk Muslim dengan kawasan Amantelu, kawasan kami, yang umumnya berpenduduk Kristen. Hal ini mengingat, selama lima tahun pertikaian antara Kristen dan Islam di Ambon, terjadi polarisasi tempat tinggal di Ambon. Yang tadinya mereka berbaur , antara penduduk Islam dengan Kristen, kini akibat konflik, banyak pendudk beragama Kristen yang tinggal di kawasan Islam di jual ke penduduk Islam, begitu pula sebaliknya. Bahkan banyak diantara mereka meninggalkan begitu saja tempat tinggal mereka, karena keburu konflik pecah.
Nah, ketika kami, aku dan Ruru mendengar banyak orang berlarian di depan rumah kontrakan kami, yang arahnya dari atas bukit, aku berdua berlari ke ruang tamu, dan betul kami tengah menyaksikan ada ratusan pemuda dari arah bukit yang banyak membawa berbagai senjata taham dan senjata rakitan tengah berlarian menuju perbatasan Amantelu dan Batu Merah. Lalu, kami berdua bergegas menuju pintu dapur, Ruru sendiri mencoba segera mematikan kompor minyak tanah yang masih menyala, tengah menggoreng ikan, sempat hangus sebagian.
Betapa terperanjatnya kami, ketika dari jendela Nampak ratusan, bahkan mungkin ribuan massa dari kedua belah pihak sudah memenuhi konsentrasi mereka di perbatasan itu. Bahkan, kabarnya, sudah ada korban berjatuhan dari kedua belah pihak.
Aku pun, bersama Ruru dan Ida Bagus Adiyoga segera ‘’mengungsi’’ ke pos milik kesatuan ‘’Kostrad’’ yagn ada di atas bukit, sekitar 100 meter dari kantor dan rumah kontrakan kami. Kami, bersama beberapa penduduk di sekitar itu mencoba ‘’mengungsi’’ sementara.
Rupanya, hari itu berjalan demikian cepat. Jakarta sempat menerjunkan bala bantuan kesatuan Brimob dari kesatuan di Kalapa Dua Jakarta. Dengan beberapa kali penerbangan dengan ‘’Hercules’’ mereka tiba di Bandara Ambon. Namun, ternyata ada kabar, sekitar 3 orang dari kesatuan Brimob ketika baru turun dari truk pengangkut mereka di sekitar perbatasan Batu Gajah tewas. Katanya, mereka tewas terkena ‘’sniper’’ yang diduga dibidik oleh kelompok ‘’pro RMS”, atau malah ada kabar dibiding oleh ‘’Provokator’’ yang tidak ingin Ambon dan kawasan Maluku lainnya tertib dan aman.
Bahkan, Thamrin Tomagola di dalam tulisannya di Jakarta Post ketika itu menilai, peluru yang menewaskan anggota Brimob itu adalah berasal dari jelis senjata laras panjang yang hanya dimiliki ‘’Kopassus’’ atau senjata hasil rampasan atau yang dimiliki para pemberontak yang berasal dari selundupan dari luar.
Kekacauan rupanya semakin parah, ke esok harinya, bahkan banyak tempat-tempat seperti Hotel Aman di kawasan Mardika dan Batu Merah di granat, sehingga terbakar, banyak gedung perwakilan lembaga kemanisiaan PBB dan lembaga swadaya asing lainnya juga digranat dan hangus terbakar. Hingga , setelah Adiyoga berkonsultasi ke Jakarta, kami, bertiga memutuskan untuk segera mengungsi sementara ke Jakarta. Sedangkan kantor dititipkan ke Manager Kantor, Saudara Buce, yang memang penduduk yang tinggal dekat Kantor.
Kami sendiri sebenarnya sudah menyewa mobil untuk mengungsi ke Jakarta. Namun, untuk menuju ke Bandara, kami ngak bisa, karena satu-satunya jalan raya menuju Bandara, yaitu melalui kawasan Batu Merah diblokade kelompok Muslim.
Kebetulan, teman kecilku, sama-sama bekas satu asrama, dan kedua orang tua sama-sama satu kesatuan di Kobekdam di Cililitan, saudara Chaerul Fasha, Kolonel Infantri, ketika itu bertugas menjadik Kepala Puskopad Kodam Pattimura di Ambon. ‘’Bapak Kolonel Chaerul, aku, Yusuf nih, mau ngungsi, tapi ngak bisa pakai mobil, ngak bisa lewat Batu Merah, bagaimana saran Anda,’’ teriak ku ke Chaerul, melalui ponselku.
‘’Yusuf, Anda kan Moslem, teriak saja Allahu Akbar, sambil lewat di sana,’’ saran Chaerul. ‘’Wah, ngak bisa. Perawakan ku kan kayak Cina, pasti belum sempat sampai diperbatasan, aku sudah dipanah,’’ jawab ku, sambil teriak ke Bapak Chaerul.
Ketika aku melakukan kontak komunikasi, sempat terdengar bunyi ‘’bom’’ . Rupanya ada ledakan granat di hotel Aman. Aku karena kaget, sempat larin dan terperosok di depan rumah. Mengingat, rumah kontrakan di tas bukit, dan di bawahnya banyak batu dan berbagai benda tajam, seperti beling, ketika aku terperosok ke jurang di depan rumah, lutut dan beberapa daerah di kaki dan paha tergores benda taham. Banyak goresan luka kecil.
Akhirnya, aku, Adiyoga dan Ruru Basanta memutuskan mengungsi kea rah Air Solobar, kawasan Pantai yang berlawanan dengan arah ke Batu Merah. Setelah menggunakan mobil Kijang, kita sebenarnya mencoba jalan melingkar lewat gunung menghindari kawasan Batu Merah. Namun, juga sulit dan ngak bisa tembus menggunakan kendaraan. Akhirnya, kami memutuskan melalui Air Solobar, dan sampai di sana kami mencharter ‘’Speed Boat’’ menuju Bandara. Selain Ruru , Adiyoga dan Saya, ada sekelompok Ibu-ibu dan anaknya ikut ‘’mengungsi’’ kea rah bandara.
Namun, celaka, baru satu jam di perjalanan, mesin speed boat kami mati. Rupanya, pengemudi lagi mencari penyebab matinya mesin. Lebih dari dua jam kamk terapung-apung di laut teluk Ambon. Saya lihat, kapal bukannya semakin dekat pelabuhan, tetapi semakin mengaruh ke laut lepas , Laut Banda. Aku lihat Saudara Ruru Basanta agak ‘’pucat’’. Ada kabar dia ngak bisa berenang. Aku sendiri, walau bisa berenang, ngak jamin juga bisa selamat, kalau kapal terapung di luat. ‘’Bisa mati kelaparan’’.
‘’Beruntung’’ pengemudi menemukan penyebab macetnya mesin. Banyak kotoran melilit kipas mesin kapal. Akhirnya, setelah sempat dibersihkan, kapal bisa melaju kembali ke kawasan dekat Bandara. Kami pun, setelah mendarat, bergegas menuju Bandara. Namun sesampainya di Bandara, kami katanya baru saja lima menit lalu ditinggal pesawat ‘’Lion Air’’ menuju Jakarta via Makasar.
Kami terpaksa ‘’mengungsi’’ sementara di sekitar bandara. Karena takut ‘’nginep’’ di hotel di sekitar kawasan Bandara, yang katanya di kuasai ‘’Kristen’’, aku dan Ruru yang Muslim terpaksa memilih ‘’nginep’’ di Wisma milik Angkatan Udara di sekitar Bandara.
Sekiar pukul 20.00 malam aku menyaksikan kota Ambon dari kejauhan, dari sekitar Bandara Ambon, bagai kota lautan api. Di mana-mana asap membumbung. Besok paginya, Kompas memberitakan, banyak hotel, dan gedung di kota Ambon yang dibakar dan digranat, serta beberapa orang tewas akibat pertikaian pada tanggal 14 April hingga 15 April 2004 itu, termasuk beberapa anggota Brimob yang baru tiba di kota Ambon itu.
Setelah satu bulan ‘’beristirahat’’ di Jakarta, aku ditugaskan kembali ke Ambon. Ruru sendiri tidak lagi ikut. Ida Bagus Adiyoga sendiri baru akan menyusul satu bulan kemudian. Selama di Ambon, kami melakukan berbagai proyek pemberdayaan ekonomi dan membangun system komunikasi untuk menjaga agar konflik kedua belah kelompok ini tidak terjadi lagi. Kami sempat membangun tiga Radio FM komunitas, satu di perbatasan antara Waihong yang Muslim dengan Batu Gadjah yang Kristen, kemudian di Perbatasan Air Solobar yang Kristen dan Islam, serta di Kawasan Laha, dekat Bandara. Ketiga Radio ini dikelola dua kelompok pemuda yang berbeda dalam wadah koperasi. Semua peralatan radio dan pengurusan surat-surat serta pelatihan atas biaya NZAid.
Di dalam konflik Kristen-Islam di Maluku yang mengorbankan nyawa lebih 10 ribu orang selama 5 tahun ini, saya menyimpulkan bahwa sebab utamanya adalah adanya ‘’provokator’’ dari pihak luar. Hal ini mengingat antara Muslim dan Kristen adalah ‘’bersaudara’’, berdasarkan hubungan ‘’Pela Gandong’’. Ada diantara mereka, walau berbeda Agama, tetapi bersaudara, ada kakak ada adik. Bahkan, walau satu kampung beragama Kristen dan satu lagi mayoritas Bergama Islam, mereka masih memiliki hubungan kerabat, sehingga mereka berabad-abad sebelumnya bisa hidup rukun dan damai.
Bayangkan saja, selama konflik, militer dan polisi pun takut satu kantor. Perwakilan Antara dan TVRI pun tebelah dua. Satu kantor untuk Kristen, dan di tempat lain untuk Islam. Tidak heran, ada wartawan TVRI harus menyerahkan film rekaman ‘’hanya’’ sampai di perbatasan. Konon, polisi yang Kristen berkantor di Polda, dan yang Islam di Polres. Begitu juga kesatuan lain.
Memang keberhasilan sang ‘’provokator’’ itu ditunjang latar belakang kecemburuan social yang sudah ada di Maluku. Di kota Ambon misalnya, banyak penduduk pendatang, yang utamanya suku Bugis dan Jawa yang sukses berbisnis di kota Ambon. Bahkan, tukang becak, tukang bakso dan sector lain banyak di dominasi pendatang. Penduduk Asli yang sebelumnya hanya berminat ‘’menjadi pegawai negeri’’, karena lapangan pekerjaan pegawai negeri ini terbatas, akhirnya banyak menjadi pengangguran.
Kini, mereka sudah sadar. Mereka tidak lagi mau di ‘’provokasi’’ dari luar yang menghancurkan sendi kehidupan mereka. Banyak orang asli Maluku, kota Ambon khususnya, bersedia bekerja di sector mana saja, termasuk jadi tukang becak. Bila ada orang Kristen dan Islam bersenggolan di pasar atau di tempat mana saja, mereka buru-buru minta maaf, karena sadar, mereka tidak ingin ‘’diprovokasi ‘’ lagi. Tetapi, saying, justru konflik antar kampung sesama agama, masih terjadi di Maluku, seperti halnya terjadi di Papua. Memang, konflik ini dilator belakangi latar belakang kondisi pendidikan dan ekonomi mereka yang masih rendah, sehingga walau mereka mampu ‘’mengatasi’’ serbuan ‘’provokator’’ sehingga bisa terjadi benturan ‘’antar agama’’, malah kerawanan lain masih terjadi, konflik antar kampung dan antar suku, seperti terjadi di kawasan lain di Indonesia Timur yang mayoritas pendudukanya masih hidup di bawah garis kemiskinan, miskin pendidikan dan bahkan banyak diantara mereka buta hurup. Inilah tugas kita semua untuk mengatasinya.
Di dalam sejarah, sejak Indonesia merdeka, baru kali inilah konflik yang berlatar belakang Agama begitu banyak ‘’menelan korban jiwa’’. Semoga tidak akan terulang lagi.
Antasari Azhar Chief of Indonesian Anti-graft Body named of murder case suspect
Visit: http://www.allvoices.com/contributed-news/3120332
Andi Syamsudin, Brother of victims Nasrudin Zulkarnaen, get happy that the Indonesian Attorney General’s Office was name Indonesian Chairman of the Corruption Eradication Commission (KPK) Antasari Azhar a suspect in the murder to kill his Brother.
‘’I am happy the Indonesian high ranking leaders initial names of AA was name by the Indonesian Attorney General’s Offices as one of the suspect murder to kill my Brothers. In the earlier I am pessimistic that the Indonesian law authorities will put his name as a suspect, but now, I am respect to the Indonesian law,’’ said Andi Syamsudin, Saturday, May 02, 2009.
According to the Indonesian policemen, several of other suspects who directly kill the Nasruddin Zulkarnaen in Tengerang, Banter, Province, last March 14, 2009, were on Policeman custody. But the Indonesian police sources said the Antasari Azhar is the murder mastermind who pays the killer. Nasruddin was killed by two bullet pistol on his head.
Antasari Azhar was a suspect of mastermind, because the securities found the SMS from his Mobile Phone to Nasrudin Zulkarnaen which was give a warning to Nasruddin that they problem should to negotiate in heart to heart. Antasari in the SMS also warn the Nasrudin not to publicly open their problem. Some sources said both Antasari Azhar and Nasrudin Zulkarnaen fall in love in one beautiful woman.
But Antasari lawyer Ari Yusuf Amin counter that his client never involve in fall in love in one girl like other peoples quotes and state in the SMS. But, my clients do not want to clarify about this matters yet. ‘’He will clarifies all this matter when he comes to the Jakarta Police Headquarter Offices on Monday, May 4, 2009,’’ he added.
‘’My clients is ready to clarified to the Policeman in Jakarta Police Headquarter Offices on Monday, May 4, 2009, about 10.00 AM on Indonesian Western Standard Times,’’ said Ari Yusuf Amin.
Speaker of Indonesian Attorney General Offices Jasman Panjaitan said, the suspect names base on the letters from the Indonesian Police Headquarter that Antasari is a suspect of the murder and want the Attorney General Offices give a restricted to Antasari Azhar going to foreign countries.
Speaker of Indonesian Presidential offices Andi Mallarangeng said, the Indonesian Attorney General Offices and the Indonesian Police Head Quarter do not need the licensee letters from the President. ‘’This case purely the murder case, not politically case, so, the Indonesian Attorney General Offices and the Indonesian Police Head Quarters according to the Indonesian law can go a head on their investigation to find who is the mastermind of the murder case,’’ said Andi Mallarangeng.
Kalla and Wiranto to declare their running mate race
Visit: http://www.allvoices.com/contributed-news/3114803-kalla-and-wiranto-to-declare-their-running-mate-race
The Party of the Functional Groups of Golkar today, Friday, May 1, 2009 expect formally to declare that his Chairman and currently Indonesian Vice President Muhammad Jusuf Kalla will joint with former Indonesian Armed In Chief Gen (ret) Wiranto as his Presidential ballot running mate. Kalla was proposed as a Presidential candidates and Wiranto as a Vice President candidates.
Chairman of the Golkar Party Muhammad Jusuf Kalla which his party base on the latest quick account of Indonesian General Election Commission (KPU) get 14.63% of total votes, the number two in rank after Democratic Party of incumbent President Susilo Bambang Yudhoyono which get 20.64% has deciding to chose Chairman of The People of Conscience Party (Hanura) Gen (ret) Wiranto as his running mate after both two Chairman Party has intensifying their lobbying in the last couple of days. Hanura Party event on the rank only number 9 which get 3.36% of total votes, only passing the Movement Party of Gerinda which get 4.30% (rank number 8) but his orator and former the powerful person in Indonesia Gen (ret) Wiranto will influent his supporting to win the race.
Another reason is Kalla needs his running mate is a Javanese indigenous, because the majority of Indonesian ethnic are Javanese, and Kalla also needs his running mate is from Military background to make a balance to incumbent Gen (ret) Susilo Bambang Yudhoyono. Combination of the Entrepreneurship background and his financial strength the Golkar Party and Hanura Party coalition hope they will win the race to replace incumbent Susilo Bambang Yudhoyono.
Indonesian peoples still waiting who is the person to be choosing Susilo Bambang Yudhoyono running mate, because The Democrat Party has already formally decided to chose Susilo as his only Presidential candidates. Some Indonesian political analyst said that Susilo Bambang Yudhoyono almost closely to chose the Chairman of Moslem's base Party of The Prosperous Justice Party (PKS) which on recent quick account get 8.15% or number 4 in the rank. Other political analyst said that maybe Susilo will chose his current Minister for State Secretary Hatta Radjasa and also member of Advisory Board of the Indonesian National Mandate Party (PAN) which get a total votes of 6.25% or number 5 in rank. But PAN Party on their latest meeting proposed both Hatta Radjasa and Chairman of PAN Party as Susilo next running mate.
Some of the Indonesian political analyst predict that Democratic Party of Struggle (PDIP) Chairman Megawati Soekarnoputri will choose his running mate is Chairman of Advisory Board of Gerindra Party Prabowo Subianto, because base on the intensity of lobbying between PDIP leaders and other Parties, Prabowo Subianto is the strongest running mate of Megawati Sukarnoputri. Other analyst said that only Prabowo Subianto who have a good power, his financial strength and his political and orator ability to compete the Coalition of Democrat Party, PKS and he Resurrection Party (PKB) which recently get a total of votes of 5.16%
Who may became the most SBY’s opponent, Prabowo, Kalla, or Mega ?
Visit:
http://www.allvoices.com/contributed-news/3095898-indonesia-presidential-candidates-kalla-moslem
When incumbent President Susilo Bambang Yudhoyono refuse to accept Muhammad Jusuf Kalla as his next Indonesian Presidential race running mate when a group of team of Golkar Party (The Party of the Functional Groups) leaders proposed him as a single Vice Presidential candidates, all the Kalla supporting members within Golkar Party, including Kalla himself try hard to persuade other party to joint Golkar as the newly power of Indonesian Political party coalition to compete Yudhoyono.
Up to April 29, 2009, Wednesday, he get supporting from Chairman of The People of Conscience Party (Hanura) Gen (ret) Wiranto who promised to support and joint with Golkar Party to make a new coalition. The supporting just came when Wiranto have talked to Mr Kalla in his Vice Presidential houses in Menteng, Jakarta, today, April 29, 2009.
Indonesian political analyst predict that this meeting may came to conclusion that Muhammad Jusuf Kalla get his vice Presidential candidates running mate for Indonesian General Presidential race poll on July 8, 2009.
Kalla on the press conference on Tuesday, April 28, 2009, said that he will confirm his next vice presidential candidate running mate on May 3, 2009. If Kalla will confirm that General (ret) Wiranto as his running mate, the combination of his coalition of party, closed to passs the Indonesian constitution requirement that the total seat on Indonesian House of Representative minimum of 20% or 25% of total of votes.
Base on the latest quick account of Indonesian General Election Commission (KPU), Golkar get 14.63%, the second rank after Democrat party of 20.64%. And Hanura Party get 3,63%. Total of both party get more than 18% of House of Representative seat. But, some other small parties, like Christian base PDS Party, and small Moslem base Party PKNU which combines get 2% make the newly Golkar block get more than 20%. Sources said that Moslem base party, The United Development Party (PPP) will support Kalla for next Presidential race. PPP recently get total of votes 5.24%
Both candidate, Muhammad Jusuf Kalla and Gen.Wiranto have a good last 2004 Presidential and vice Presidential Indonesian election race. Muhammad Jusuf Kalla on last rade as Mr Susilo Bambang Yudhoyono running mate, and Wiranto as a Golkar presidential candidacy who his running mate is Solahuddin Wahid, Indonesian Nahdlatul Ulama base leaders and brothers of former Indonesian President Abdurachman Wahid. With this experiences, and to combine with the Muhammad Jusuf Kalla financial strength, the competition on Indonesia next Presidential race on July 8, 2009 will be more challenges for incumbent Susilo Bambang Yudhoyono, event the popularity of Yudhoyono base on some Indonesian survey institutions left too far if we compare to all Yudhoyono competitiors.
The most other Yudhoyono’s opponents is the Chairman of the Advisory Board of Movement Party of Gerindra, Mr Prabowo Subianto. Event Chairman of Indonesian Democratic Party of Struggle (PDIP) Megawati Sukarnoputri has already the single Presidential candidate for PDIP, but Megawati movement and political ability to compete Yudhoyono is not stronger than Prabowo Subianto. Prabowo not only have enough financial power to succeed Yudhoyono, but also more clever and more orators than Megawati.
Some Indonesian polical analyst said that only Prabowo Subianto if he get supported from PDIP Party the most danger may to compete Yudhoyono than Megawati Sukarnoputri or Muhammad Jusuf Kalla. But, is Mrs Megawati Sukarnoputri which her party get the third rank with 14.09% of votes, of course more higher than Gerindra Party which only get 4.30% (the 9 rank of total Party base on quick account) will led Prabowo as her Presidential candidates, and to moved her as a Second running mate vice Presidential candidates. Some Indonesian political analyst said that the changing of position could be possible, if PDIP party proposed Megawati daughter Puan Maharani, as Prabowo next running mate.
Prabowo Subianto is one of the Indonesian Presidential candidate, not only proposed by his own party Gerindra, but when Moslem base Party PPP have a special Party Leaders meeting, the Majority of 33 of provincial PPP Branch leaders proposed Prabowo as their Presidential candidates. Only a few leaders want PPP still hold their present coalition parties with Democrat party.
Democrat Party which has already proposed their single candidate as his Presidential candidacy Susilo Bambang Yudhoyono has already secured their combination of seat in House of Representative with 20.64%. The Prosperous Justice Party (PKS) which get 8.15%, the National Mandate Party (PAN) 6.25% and The Resurrection Party (PKB) which get 5.16% has already confirm their seeking coalition with Democratic Party. So, the combine total of votes is 40.20%. That is mean the stronger coalition party if we compare to the Golkar and PDIP coalition Party.
The only way to pass the Democrat party, the Golkar party, PDIP, PPP, Gerindra and Hanura should reunited their power into one coalition parties. If, this combines party of coalition became a reality, they have a total of votes of 41.89%. But, some of Indonesian political analyst said that is hard to get a compromise between each of the Party leaders who will lead the coalition to become the next Presidential candidates, because the PDIP Party congress has already state that Megawati Sukarnoputri is the single Presidential candidates. Golkar also have the similar decision want Muhammad Jusuf Kalla is their single Presidential candidates. Other, Prabowo Subianto, even his party only get 4.30%, but Indonesian Political analyst said that with his Financial strength, political ability and as an orator man, only Prabowo Subianto the most Susilo Bambang Yudhoyono threat than Muhammad Jusuf Kalla, or Megawati Sukarnoputri.
In other side, Susilo Bambang Yudhoyono get a little headache when he receipt 16 his running mate candidates from his Coalition of Party supporting, either from The Prosperous Justice Party (PKS) which already proposed Chairman of Advisory Board of Moslem base of Prosperous Justice Party and current Chairman of the Indonesian Peoples of House of Representative (MPR) and chairman of PKS Party Tifatul Sembiring and the National Mandate Party (PAN) who proposed members of PAN Advisory Board and current Minister for State Secretary Hatta Radjasa and Chairman of PAN Party Sutrisno Bachir. But, other political analyst said that Chairman of PAN Advisory Board and former Chairman of the Indonesian Peoples of House Representative (MPR) Amien Rais is more powerful than Hatta Radjasa and Soetrisno Bachir.
Amien Rais is one of the Indonesian reform movement leaders who know as one of the Indonesian orators. But, one of the Amien Rais weakest is he do not have enough money to support his ambition to become Indonesian next vice President, unless the rich man like Sutrisno Bachir to support Amien Rais at all cost.
The Indonesian Presidential Candidates busy to seek their running mate
Visit: http://www.allvoices.com/contributed-news/3069596-the-indonesian-presidential-candidates-busy-to-seek-their-running-mate
The Indonesian political parties of coalition were dividing into three block of power to propose their President and Vice President Candidates for Indonesian Presidential poll on July 8, 2009.
The Democrat Party which has already get more than 20% of the total votes on quick account has already proposing his Presidential Candidates the incumbent and the Chairman of Advisory Board of Democratic Party Susilo Bambang Yudhoyono. The Indonesian Democratic Party of Struggle (PDIP) also has proposing his Party Chairman Megawati Sukarnoputri, and the third block is Golkar Party (The Party of the Functional Groups) which on his Special meeting of Party leaders last week has decided that his Party Chairman Muhammad Jusuf Kalla is the only one of Golkar Party candidate to run for the next Indonesian Presidential poll.
The question are who will be the running mate of each Propose presidential candidates, because until today, on April 26, 2009 no event one party were ready to chose who is the person will side by side as their running mate as their Vice Presidential candidate. Each Presidential candidate only states the candidates criteria, not mention any names of candidates.
But when the Democratic Party of Struggle have a special congress on Saturday, April 25, 2009, almost 33 Democratic Party of Struggle provincial branch leaders proposed two names of Megawati Sukarnoputri running mate, they are Chairman of the Movement Party of Gerinda Prabowo Subianto and Members of Advisory Board of the Functional Group Party of Golkar Sri Sultan Hamengku Buwono X who at present also as a Governor and the Symbolic king of Yogyakarta. All the members of Provincial Branch of Democratic Party of Struggle (PDIP) give the mandate to Megawati Sukarnoputri to choose one of the two will run as her running mate candidates.
Before the meeting, Chairman of the People's Conscience Party (Hanura) Gen. (ret) Wiranto is one of the potential candidates to be Megawati running mates, because both party, Gerinda Party and Hanura Party proposed their commitment to support and to seek a coalition to PDIP Party.
The Indonesian political analyst said that only Prabowo Subianto as a potential Megawati running mate to compete Mr Susilo Bambang Yudhoyono, because one of the Prabowo Subianto strength are his orator ability and his family wealth in order to pay a lot of money to advertise his campaign on Indonesian media, especially on Television which in the last Parliamentary election poll has already bring his Party, Gerindra pass the Indonesian Parliamentary threshold of 2,5%, because base on the latest poll parliamentary quick account Gerindra get more than 4% of the total votes or make the party into number 9 of total rank.
When Mr Susilo Bambang Yudhoyono refuses to accept his Vice President Muhammad Jusuf Kalla as his next running mate, some other Political Parties proposed their candidates to be Susilo Bambang Yudhoyono running mate. The Moslem base party of Prosperous Justice Party (PKS) which on the latest quick account get more than 8% of total votes proposed his cadres to be Yudhoyono running mate. Both are PKS Chairman of Advisory Board Hidayat Nur Wahid who currently also as a Chairman of Indonesian Peoples Representative (MPR) and Chairman of PKS Party Tifatul Sembiring.
PKS leaders in the last few days have make pressures to Mr Yudhoyono to choose PKS cadres. ‘’Mr Yudhoyono should chose his running mate from Political Parties candidates, because this decision not only best for Party coalition to make a coalition more stronger in Parliament, but also in order to form a strong Cabinet coalition,’&rs
Tifatul Sembiring and other PKS leaders, like PKS Secretary General Anis Matta warn to Democrat Party leaders that ‘’I will separate from Democrat – PKS coalition if Mr Yudhoyono still proposed Muihammad Jusuf Kalla as his running mate again,’’ Anis Matta said. But, when Yudhoyono refuse to accept the Golkar Party leaders to proposed Muhammad Jusuf Kalla as Mr Yudhoyono next running mate, made the PKS ambition to proposing his cadres to be Mr Yudhoyono running mate more closely to implementing.
The National Mandate Party (PAN) which in the latest quick account get more than 6% has already proposing his candidate Mr Hatta Rajasa, currently as a member of Yudhoyono cabinet as a Minister of State Secretary (Mensesneg). The proposing of Mr Hatta Rajasa was coming when his Chairman of PAN Advisory Board Amien Rais call a meeting to 33 provincial PAN branch leaders in Yogyakarta last week. The informal meeting decided to proposed Mr Hatta Rajasa as Mr Yudhoyono running mate. But the crucial was the Chairman of PAN Party Soetrisno Bachir was not present on the meeting, because he does not agree with Mr Amien Rais to propose Hatta Rajasa to be Mr Yudhoyono next running mate. But, one Indonesian political analyst said that Soetrisno Bachir himself seek an ambition to fill that position.
The position of Mr Muhammad Jusuf Kalla as one of the next Presidential candidates is the weakest, because no other party yet to states that their party needs to make a coalition to Golkar as Kalla running mate. The political analyst said, when Mrs Megawati Soekarnoputri will chose Prabowo Subianto as her running mate, Mr Wiranto is one of the best candidate for Muhammad Jusuf Kalla to his Presidential candidate running mate.
But the Indonesian political atmosphere are still moving uncertainly, because today the Coalition of Islamic Party of Partai Persatuan Pembangunan (PPP) which on the latest quick account get more than 5% of total votes on his members party leaders meeting decided to chose two names has their Presidential candidates. That are Mr Yudhoyono and Mr Prabowo Subianto. If, the PPP Party chose Mr Prabowo Subianto as their Presidential candidates, the Party of Coalition Block to run for the next Presidential election poll not only three, but to become four block of coalition. If the prediction gets into implementing, the moving of the Indonesian political atmosphere will became more complicated and the political tension will run in the uncertainty moving.